Serangan di Prancis: Penikaman dalam 'serangan teror' di Nice, kata wali kota, tiga orang meninggal, satu orang 'nyaris terpenggal'
News

Serangan di Prancis: Penikaman dalam ‘serangan teror’ di Nice, kata wali kota, tiga orang meninggal, satu orang ‘nyaris terpenggal’

Tiga orang meninggal dan paling tidak satu orang lainnya terluka dalam penikaman di Nice, menurut polisi Prancis.

Wali kota Nice, Christian Estrosi mengatakan semua bukti menunjukkan insiden itu adalah “serangan teroris di jantung basilika Notre-Dame.

Seorang korban – perempuan lanjut usia – yang datang ke basilika untuk beribadah “hampir terpenggal.” Tersangka ditembak dan ditahan tak lama setelah penikaman itu.

Estrosi menyebut pelakunya adalah “Fasisme Islamis” dan tersangka berulang kali mengucapkan “Allahu Akbar (Tuhan Maha Besar).

President Emmanuel Macron telah berada lokasi kejadian dan berbicara dengan polisi dan para petugas.

Sementara jaksa antiteror telah memulai penyelidikan pembunuhan.

Estrosi membandingkan serangan itu atas pemenggalan seorang guru, Samuel Paty, yang dibunuh di dekat sekolahnya di luar Paris bulan ini.

Polisi belum menyebut motif pembunuhan. Namun serangan ini terjadi menyusul protes di sejumlah negara terkait langkah Presiden Macron yang membela penerbitan karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Dua serangan terpisah terjadi Kamis (29/10), satu di kota lain Prancis dan satu di Arab Saudi.

Seorang pria ditembak mati di Montfavet setelah mengancam polisi dengan pistol tangan.

Dan seorang penjaga diserang di luar konsulat Prancis di Jeddah. Tersangka ditahan dan penjaga gedung dibawa ke rumah sakit.

Apa yang diketahui tentang serangan itu?

Dua dari tiga korban meninggal diserang di dalam gereja, perempuan lanjut usia dan seorang pria yang ditemukan dengan leher tertikam, menurut sejumlah laporan.

Seorang perempuan yang berhasil menyelamatkan diri ke satu kafe terdekat ditikam beberapa kali dan meninggal kemudian.

Seorang saksi mata dilaporkan memberi tahu aparat melalui sistem perlindungan yang dibentuk di kota itu.

Dalam perkembangan terpisah, satu orang penjaga diserang di konsulat Prancis di Jeddah, Arab Saudi.

Konsulat mengatakan penyerangnya telah ditahan dan penjaga itu dibawa ke rumah sakit. Kondisinya dilaporkan tidak gawat.

Reaksi sejauh ini

Menteri Dalam Negeri, Gérald Darmanin menyerukan warga untuk menghindari daerah pusat kota.

Gérald Darmanin mengatakan ia mengadakan pertemuan darurat di Paris.

Mengheningkan cipta selama satu menit dilakukan di Majelis Nasional, di tengah pengumuman Perdana Menteri Jean Castex terkait rincian karantina wilayah yang akan berlaku pada Kamis malam (29/10).

“Tak diragukan lagi, kejadian ini adalah tantangan baru yang sangat serius yang melanda negara kita,” katanya sambil menyerukan kesatuan.

Presiden Emmanuel Macron akan mengunjungi lokasi kejadian Kamis (29/10).

Dewan Muslim Prancis mengecam penikaman di Nice dan menyatakan duka terhadap korban dan keluarganya.

Konteks kejadian

Nice adalah salah satu kota sasaran serangan mematikan dalam tahun-tahun terakhir ini di Prancis.

Pada 14 Juli 2016, saat perayaan Hari Bastille, seorang warga Tunisia berusia 31 tahun menabrakkan truk yang dikendarainya ke arah massa, menewaskan 86 orang.

Beberapa hari kemudian, Pendeta Jacques Hamel ditikam lehernya selama kebaktian pagi di gereja kota Rouen.

Pada bulan Oktober ini juga, seorang guru, Samuel Paty dipenggal kepalanya di Conflans-Sainte-Honorine, di luar Paris, beberapa hari setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada sejumlah murdinya.

Pembunuhan itu menyebabkan ketegangan di Prancis dan upaya pemerintah untuk meredam kelompok radikal Islam menimbulkan kemarahan di Turki dan sejumlah negara.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyerukan boikot barang-barang Prancis.

Situasi semakin memburuk setelah Erdogan ditampilkan dalam karikatur tengah menyingkap baju perempuan berjilbab di majalah satiris Charlie Hebdo.