Erdogan ditampilkan dalam bentuk karikatur sibak baju perempuan berjilbab, Turki mau gugat majalah Prancis Charlie Hebdo
News

Erdogan ditampilkan dalam bentuk karikatur sibak baju perempuan berjilbab, Turki mau gugat majalah Prancis Charlie Hebdo

Turki menyatakan tekad mau mengambil langkah “hukum dan diplomatik” terkait karikatur Presiden Recep Tayyip Erdogan di majalah Prancis Charlie Hebdo.

Kartun itu menggambarkan kepala Turki tersebut menyingkap baju seorang perempuan berjilbab.

Media resmi menyebutkan jaksa Turki telah memulai penyelidikan sah terkait majalah satiris itu.

Hubungan antara Prancis dan Turki tegang setelah Presiden Emmanuel Macron bertekad hendak mengambil langkah yang lebih tegas terkait kelompok Islam radikal.

Protes pula memanas di sejumlah negara tercatat Bangladesh, Kuwait, Yordania dan Libya dengan seruan boikot terhadap barang-barang Prancis.

Erdogan juga mengajukan tuntutan pidana terhadap Geert Wilders, pemimpin Golongan untuk Kebebasan (PVV), partai sayap kanan jauh di Belanda, tempat tuduhan “menghina presiden”.

Tuduhan tersebut terkait dengan komentar Wilders dalam media sosial, sebagaimana dilaporkan Anadolu, kantor berita resmi Turki.

Wilders ialah salah satu politisi sayap kanan paling terkemuka di Eropa serta telah memainkan posisi kunci pada debat imigrasi di Belanda selama dekade terakhir, meskipun dia belum pernah menjabat di pemerintahan.

Pada Sabtu lalu, Wilders mengunggah gambar kartun Erdogan dan memberi judul “teroris”.

Dua hari kemudian, dia mengunggah gambar kapal tenggelam dengan alam Turki di atasnya. “Bye bye @RTErdogan. Keluarkan Turki dari NATO, ” cuitnya di bawah gambar itu.

Pengacara Erdogan, yang mengajukan gugatan kepada otoritas kejaksaan Turki di Ankara pada hari Selasa, mengatakan pengadilan Turki memiliki yurisdiksi atas masalah tersebut.

Alasannya, penghinaan itu ditujukan kepada presiden Turki, sebagaimana dilaporkan Anadolu, mengutip dokumen yang diajukan oleh tim pengacaranya.

Pengaduan yang diajukan oleh pengacara Erdogan mengatakan bahwa unggahan media sosial politisi Belanda itu tidak dapat dilihat dalam konteks kebebasan berpikir dan berpendapat.

Dikatakan kalau pernyataan itu “menyinggung” martabat dan kehormatan presiden.

Cuitan Wilders muncul di tengah perdebatan terbaru tentang Islam dan apa yang digambarkan oleh Ankara sebagai meningkatnya Islamofobia serta “fasisme” di Eropa.

Pada 25 Oktober lalu, Erdogan mengeluarkan pernyataan yang isinya mendesak Wilders agar “tahu diri”.

“Kami tidak memiliki fasisme di dalam buku kami. Anda memiliki fasisme dalam buku Anda, ” katanya.

Penguasa pemerintah Turki lainnya juga secara luas mengkritik Wilders karena tweet tersebut, dengan menggunakan tagar #TerroristGeertWilders.

Hubungan Turki dan Belanda memburuk di 2017 ketika para pejabat Belanda tidak mengizinkan para menteri Turki menghadiri acara di Belanda dengan diadiakan oleh komunitas Turki di negara tersebut ketika Turki menyelenggarakan referendum konstitusi.

Pada 2018, kedua negeri mulai menormalisasi hubungan dengan pengangkatan duta besar.

Apa tanggapan pemerintah Belanda?

Perdana Menteri Belanda (PM) Mark Rutte mengatakan gugatan Erdogan itu tidak dapat diterima.

“Saya memiliki pesan untuk Presiden Erdogan dan pesannya sangat sederhana. Di Belanda, ana menganggap kebebasan berpendapat sebagai salah satu hak yang paling saya hargai dan itu termasuk karikatur, termasuk politisi, ” ujarnya sebagaimana diberitakan Kantor berita Reuters.

Ankara telah lama mengkritik pandangan dan kebijakan yang dikemukakan oleh Wilders, pemimpin Partai untuk Kebebasan (PVV).

Bagaimana reaksi para pejabat Turki?

Menteri Sungguh Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu di dalam hari Minggu menyebut Wilders jadi “pecundang rasis” yang mencoba memperoleh dukungan dengan permusuhan terhadap Agama islam dan orang asing.

“Sudah waktunya bagi Eropa untuk menghentikan politisi manja yang berpikiran fasis, ” kata Cavusoglu di Twitter.

Devlet Bahceli, pemimpin Golongan Gerakan Nasionalis Turki dan federasi Erdogan, mengatakan pada hari Selasa bahwa Wilders memiliki “hubungan gelap” dengan organisasi teroris.

“Pemimpin Partai buat Kebebasan (PVV) yang melemah sudah membungkuk begitu rendah hingga membicarakan presiden kita seorang teroris.

“Dia telah menunjukkan siapa sebenarnya teroris, fasis dan barbar, ” logat Bahceli kepada anggota partainya dalam parlemen, masih dikutip dari Reuters.

Langkah itu dilakukan sehari setelah Erdogan mendesak Turki untuk memboikot barang-barang Prancis atas gambar Nabi Muhammad yang dipajang di Prancis, yang oleh banyak orang Muslim dianggap sebagai penghujatan.

Siapa Geert Wilders?

Wilders sering mengejutkan kalangan kebijakan Belanda dan menyinggung umat Islam.

Tempat dibebaskan dalam sidang ujaran kebencian tahun 2011 atas pernyataan dengan menyamakan Islam dengan Nazisme & menyerukan larangan Alquran.

Bulan lalu dia dibebaskan oleh pengadilan banding atas dakwaan diskriminasi, meskipun pengadilan menguatkan dakwaan terhadapnya.

Wilders dituduh memimpin teriakan untuk agar ada “lebih kurang orang Maroko” di Belanda pada sebuah unjuk rasa tahun 2014.

Dalam 2016 dia dihukum karena tudingan menghina kelompok dan menghasut segregasi.

Namun politisi anti-Islam berusia 56 tahun itu menyebut kasus itu jadi pengadilan pertunjukan politik dan menantang putusan tersebut.

Dia berpendapat bahwa komentarnya harus dilindungi oleh atas benar kebebasan berbicara di negara tersebut.