Pemenggalan guru Prancis: Dua murid yang mengidentifikasi guru ke pembunuh, dengan imbalan 300 euro, akan didakwa
News

Pemenggalan guru Prancis: Dua murid yang mengidentifikasi guru ke pembunuh, dengan imbalan 300 euro, akan didakwa

Prancis akan menggugat tujuh orang terkait pemenggalan seorang guru sejarah, termasuk dua remaja, yang dituduh mengindentifikasi guru itu kepada pembunuhnya, kata jaksa antiteror.

Pernyataan ini diungkap jaksa antiteror, Jean-Francois Ricard, di tengah persiapan mengenang Samuel Paty, dalam upacara yang akan dihadiri Presiden Emmanuel Macron pada Rabu malam (21/10) waktu Prancis. Macron juga bakal memberikan penghargaan khusus kepada Paty.

Dua remaja yang merupakan pengikut di sekolah menengah pertama pada dekat Paris mengidentifikasi Paty, ke pembunuhnya, dengan imbalan antara 300 sampai 350 Euro (Rp5, 2 juta sampai Rp6 juta ), kata Ricard.

Paty dibunuh dalam perjalanan ke rumahnya Jumat lalu sebab sekolah menengah pertama tempat ia mengajar di kawasan luar kota Paris, Conflans-Sainte-Honorine.

Ia menjadi sasaran kesumat di online setelah menunjukkan ke para muridnya kartun Nabi Muhammad dalam satu pelajaran sekolah.

Pembunuhnya, cukup umur 18 tahun kelahiran Rusia, Abdullakh Anzorov, memberikan sebagian uang dengan dijanjikan di luar sekolah & meminta murid-murid itu untuk menetapkan guru yang dimaksud, kata jaksa Jean-Francois Ricard dalam keterangan pada pers.

Dua pengikut termasuk di antara tujuh karakter yang menghadapi tuntutan “berkonspirasi melangsungkan pembunuhan teroris. ”

Dari tujuh karakter yang akan didakwa, selain dua murid itu juga ada seorang ayah murid yang mengeluh Paty menggunakan kartun Nabi Muhammad di dalam pelajaran kebebasan berbicara, tiga saudara pembunuh dan seorang yang disebutkan beraliran Islam radikal.

Ricard mengatakan pembunuhnya hanya mengetahui nama guru & sekolah, namun tidak mengetahui orangnya.

“Ia hanya bisa mengidentifikasi (Paty) sebab bantuan para murid di sekolah itu, ” katanya.

Sebelumnya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengajak Rusia buat meningkatkan kerja sama dalam menyerang terorisme setelah peristiwa pemenggalan tersebut.

Perkataan Macron disampaikan dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menggambarkan serangan itu jadi “pembunuhan biadab”.

Samuel Paty, 47, dipenggal kepalanya setelah memperlihatkan kartun kontroversial Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Abdullakh Anzorov, etnis Chechnya, ditembak mati oleh polisi tak lama setelah serangan itu.

Apa yang dikatakan Macron serta Putin?

Macron mengatakan ia ingin adanya “penguatan kerja sama Prancis-Rusia pada perang melawan terorisme dan imigrasi ilegal”, demikian pernyataan pihak kepresidenan Prancis.

Tidak ada rincian lebih sendat tentang percakapan telepon Macron secara Presiden Putin pada Selasa (20/10).

Sementara itu, Kremlin menerbitkan penjelasan singkat, mengutip Putin yang mengatakan bahwa kedua belah pihak “menegaskan kembali kepentingan bersama dalam menggalakkan upaya bersama dalam perang melawan terorisme dan penyebaran ideologi ekstremis”.

Barang apa saja yang sudah diketahui mengenai penyerang?

Abdoulakh Anzorov, nama sang penyerang guru, tumbuh di Moskow tetapi telah susunan di Prancis sejak 2008. Keluarganya berasal dari wilayah Chechnya, provinsi dengan mayoritas Muslim di Rusia.

Anzorov datang ke Prancis dengan status pengungsi sebagai anak-anak & tidak dikenal oleh polisi antiterorisme, demikian laporan media Prancis.

Ia letak di kota Évreux, Normandy, dengan berjarak sekitar 100 km dibanding TKP dan tidak memiliki hubungan jelas dengan sang guru ataupun sekolah tempat ia mengajar.

Pria itu pernah beberapa kali tersangkut masalah hukum, dan diadili, tapi hanya dengan dakwaan pelanggaran ringan.

Kakek serta saudara laki-lakinya yang berusia 17 tahun telah diinterogasi dan dibebaskan setelah serangan itu.

Rusia dalam penjelasan hari Sabtu pekan lalu menyatakan tidak terkait dengan penyerangan itu.

“Kejahatan ini tidak ada hubungannya dengan Rusia karena orang ini sudah tinggal di Prancis selama 12 tahun terakhir, ” kata Sergei Parinov, Juru Bicara Kedutaan Rusia di Paris, kepada kantor berita Tass, Sabtu (17/10)

Empat siswa madrasah termasuk di antara 15 karakter yang ditahan di Prancis sesudah seorang guru, Samuel Paty, dipenggal kepalanya. Paty sebelumnya menunjukkan kartun kontroversial Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Benduan lain mencakup empat anggota puak si pembunuh, seorang orang usang murid di sekolah, dan seorang radikal Islam yang terkenal.

Polisi menyelenggarakan 40 penggeledahan rumah-rumah tersangka ekstrem pada Senin (19/10) dan penggeledahan lebih lanjut akan dilakukan.

Pembunuhan brutal itu mengejutkan Prancis.

Puluhan ribu orang mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa di seluruh negeri pada Minggu (18/10) untuk menghormati Paty dan menyerukan kebebasan berbahasa.

Upacara penghormatan kepada Paty, yang berusia 47 tahun, dijadwalkan diadakan dalam Universitas Sorbonne di Paris di Rabu (21/10).

Sebelumnya diberitakan karakter pemenggalan menunggu di luar madrasah dan meminta sejumlah murid untuk mengidentifikasi targetnya, menurut lembaga antiterorisme Prancis.

Pria itu kemudian mengunggah menjepret korban yang telah meninggal ke media sosial.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Si penyerbu kemudian menembak polisi dengan senapan udara sebelum ditembak mati.

Polisi mengatakan tengah menyelidiki kemungkinan kaitan simpulan dengan kelompok ekstremis Islam.

Serangan tersebut terjadi pada sekitar pukul 17: 00 waktu setempat pada hari Jumat (16/10) dekat College du Bois d’Aulne, tempat Paty mengajar, di Kota Conflans-Sainte-Honorine, yang berpisah sekitar 30km dari barat-laut Paris pusat.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutarakan serangan itu menunjukkan semua bukti “serangan teroris Islamis” dan guru itu dibunuh karena ia “mengajarkan kebebasan berekspresi”.

Pembunuhan ini terjadi pada saat persidangan atas serangan tahun 2015 kepada majalah satire Prancis Charlie Hebdo tengah berlangsung. Majalah Charlie Hebdo menjadi target karena menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang kontroversial.

Tiga minggu lalu, seorang pria menghajar dan melukai dua orang pada luar bekas kantor majalah Charlie Hebdo.

Jalan serangan

Perincian tentang penyerangan dan penyelidikan diberikan oleh jaksa penuntut antiterorisme, Jean-François Ricard.

Pelaku diketahui pergi ke kampus pada Jumat siang & meminta para siswa untuk menetapkan yang mana Samuel Paty tersebut, kata Ricard.

Si penyerang kemudian membuntuti Paty, yang berjalan kaki pulang ke rumahnya setelah sekolah, melukai kepala korban dengan pisau & kemudian memenggal kepalanya.

Ricard menyebut bukti mata mendengar si penyerang berteriak “Allahu Akbar”, atau “Allah Maha Besar”.

Laki-laki itu kemudian mengunggah menjepret korban ke akun Twitter, bersama cacian untuk PM Macron & para “kafir” dan “anjing” dalam Prancis.

Ketika polisi mendekati si penyerang, dia menembakkan senapan udara ke pedoman polisi, kata Ricard.

Polisi balas menujukan. Tersangka berusaha bangun dan ditembak lagi, sampai sembilan kali.

Sebilah pisau dengan panjang 30cm ditemukan pada dekat si penyerang.

Perkembangan penyelidikan

Ricard mengatakan Paty telah menjadi sasaran berbagai ancaman sejak menunjukkan kartun Rasul Muhammad dalam kelas tentang privilese berekspresi, dalam kaitan dengan kejadian Charlie Hebdo.

Majalah satire Prancis tersebut menjadi sasaran serangan mematikan dalam 2015 setelah mempublikasikan kartun itu. Persidangan tentang serangan itu sedang berlangsung.

Paty, guru sejarah dan geografi, menyarankan para murid yang mematuhi Islam untuk memalingkan pandangan kalau mereka merasa akan tersinggung.

Orang primitif salah seorang murid marah sebab insiden tersebut. Ia menuduh Paty menunjukkan gambar telanjang Nabi Muhammad.

Sang ayah mengajukan komplain secara sahih dan membuat video yang membuktikan kemarahan pada tindakan Paty, mengikuti menyerukan agar orang-orang datang berama-ramai ke sekolah untuk protes.

Sang abu adalah salah satu orang dengan kini dalam tahanan polisi, prawacana Ricard. Ia menambahkan bahwa saudari ipar pria itu bergabung dengan kelompok yang menyebut diri itu Negara Islam di Suriah pada 2014.

Sedikitnya satu dari orang dengan ditangkap dikenali oleh polisi antiterorisme, ujarnya, dan kaitan lainnya sedangkan diselidiki.

Dan setidaknya empat dari 10 yang ditangkap adalah kerabat jiwa penyerang.

Ricard mengatakan ini adalah serbuan kedua sejak persidangan Charlie Hebdo dimulai. Sebelumnya, seorang pria menggenjot dan melukai dua orang dalam luar bekas kantor majalah itu.

Ricard berkata ada “ancaman terorisme tingkat tinggi yang sedang berlangsung di tanah Prancis”.

Reaksi masyarakat Prancis

Para siswa dikabarkan sangat kaget akan pembunuhan brutal guru yang disukai banyak pengikut. Seorang ayah menulis di Twitter bahwa anak perempuannya “hancur, ketakutan oleh kekerasan tindakan itu. Dengan jalan apa saya bisa menjelaskan kepadanya peristiwa yang tidak pernah terbayangkan? ”

Seorang mantan murid Paty, Martial, 16 tahun, berkata sang guru menyayangi pekerjaannya: “Ia sungguh-sungguh ingin mengajari kami banyak hal – kadang-kadang kami berdebat”.

Presiden Prancis berkata kesibukan penghormatan nasional akan diselenggarakan buat Paty, dan tagar #JeSuisSamuel (Saya Samuel) menjadi tren di media sosial, mirip dengan seruan simpati #JeSuisCharlie serangan terhadap Charlie Hebdo.

Berbicara di tempat kejadian beberapa jam setelah insiden, Presiden Macron menekankan pentingnya gabungan nasional. “Mereka tidak akan lulus, mereka tidak akan memecah-belah kita, ” ujarnya.

Charlie Hebdo pada keadaan Jumat menyatakan dalam akun twitternya, “Intoleransi baru saja mencapai lapisan baru dan tampaknya terus mengumumkan teror di negara kita. ”

Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer, yang menemui para pemimpin dari serikat pengasuh pada Sabtu, berkata dalam maklumat yang direkam bahwa Paty telah dibunuh oleh “musuh kebebasan” & Prancis “tidak akan pernah tertinggal ketika dihadapkan dengan teror serta intimidasi”.

Untuk memutar video itu, aktifkan JavaScript atau coba pada mesin pencari lain

Para pemimpin umat Islam di Prancis juga mengutuk serbuan itu. “Masyarakat yang beradab tidak membunuh orang yang tidak bersalah, barbarismelah yang melakukannya, ” introduksi Tareq Oubrou, imam masjid dalam Bordeaux, kepada France Inter .

Majelis rakyat Chechnya dengan berbasis di Strasbourg, Eropa, berkata dalam sebuah pernyataan: “Seperti seluruh orang Prancis, komunitas kami ngerasa ngeri dengan kejadian ini. ”