Covid-19: Kritik penanganan pandemi lewat wayang botol, 'bisa membuat tersenyum sekaligus malu'
News

Covid-19: Kritik penanganan pandemi lewat wayang botol, ‘bisa membuat tersenyum sekaligus malu’

  • Muhammad Irham
  • Wartawan BBC News Indonesia

Saat kritik terhadap penanganan Covid-19 yang diyakini dibungkam lewat peretasan, protes lain muncul lewat pertunjukan wayang botol dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Layar mulai terkembang. Gendang bertabuh. Kayon bergetar melayang-layang, kemudian bergerak untuk ditancapkan ke gawangan kiri dan kanan.

Empat wayang berpakaian hazmat muncul menggendong peti jenazah, membuka awal kisah negeri botol yang jauh di sana.

“Semua orang takut karena muncul makhluk aneh bernama coronas virus Covid-19. Belakangan mereka lalai. Tak ada lagi yang khawatir… Masker bukan digunakan untuk menutup mulut, malah digunakan untuk menutup leher-leher mereka,” kata Sang Dalang mengawali kisah negeri wayang botol.

Rakyat di negeri botol memang sudah tak percaya lagi dengan Covid-19. Informasi apa pun yang dikait-kaitkan dengan pandemi mematikan ini, rakyat langsung menjawab dengan ‘hoaks’.

“Itu hoaks Pak Lurah. Iya hoaks. Masa, orang diare dibilang covid. Masa, orang bisul dibilang covid. Nanti orang ambeien dibilang terkena Covid,” seraya rakyat negeri botol merespons Pak Lurah yang sedang kampanye menerapkan protokol kesehatan.

Pak Lurah adalah karakter yang menjadi representasi pemerintah dalam lakon negeri wayang botol.

Setelah diusir masyarakat karena sudah tak lagi dipercaya, Pak Lurah menangis tersedu-sedu lalu mengadu pada Umar Maya.

Umar Maya adalah tokoh dalam Wayang Sasak yang bersumber dari serat menak. Di dongeng negeri botol, ia menjadi tokoh yang disegani.

Perawakannya pendek, gemuk, perut buncit, tapi bijaksana. Mirip seperti karakter Semar dalam punakawan pewayangan Jawa dan Sunda.

“Kami mengimbau masyarakat negeri botol untuk lebih berhati-hati. Jaga jarak pakai masker. Faceshield. Begitu. Mencuci tangan pakai sabun. Apa yang kurang?” tanya Pak Lurah kepada Umar Maya.

“Ada satu yang kurang dari yang kamu lakukan, Pak Lurah. Kalian tidak jujur menangani kasus ini. Tidak jujur. Tidak konsisten,” kata Umar Maya.

Umar Maya kemudian menceritakan kebijakan Pak Lurah saat pertama kali virus corona muncul, tapi tidak ditanggapi dengan serius. Saat negeri lain menutup orang-orang dari luar, Pak Lurah justru membuka bandara lebar-lebar.

Bukan hanya itu, Pak Lurah dan jajarannya kerap mengumpulkan orang-orang untuk kegiatan seremonial dan pencitraan.

Di saat tenaga medis berjuang mati-matian, dewan perwakilan rakyat negeri botol justru memaksakan aturan-aturan yang menyengsarakan rakyat.

“Dan itu terjadi di tengah Covid-19. Ini benar-benar memalukan,” kata Umar Maya.

Ini adalah potongan cerita dari negeri wayang botol berjudul “Corona Rona Rona. Rona Rona Corona”. Kritis nan satir, sebagai gambaran apa yang sedang terjadi saat ini.

Cerita ini ditayangkan secara langsung melalui YouTube, Senin 24 Agustus kemarin oleh Sekolah Pendalangan Wayang Sasak. Beberapa dalang yang memainkan lakon ini merupakan anak-anak.

Ketua Yayasan Pedalangan Wayang Sasak, Abdul Latif Apriaman, ingin menunjukkan cara yang tidak biasa untuk melayangkan kritik terhadap penanganan Covid-19. Dia berkata, cara kritik melalui media wayang bertujuan untuk kontemplasi.

“Saya kira, mudah-mudahan, cara mengkritiknya bisa membuat orang-orang itu, para pelaku-pelaku, sedikit tersenyum, malu untuk mau marah dengan Umar Maya, sama anak-anak dalang kecil itu,” kata Latif, sapaan Abdul Latif Apriaman, kepada BBC News Indonesia, Kamis (27/08).

Latif kecewa terhadap cara pemerintah menangani Covid-19. Kisah negeri botol adalah refleksinya selama menjalani pekerjaan sebagai seorang jurnalis.

Menurutnya pemerintah tidak konsisten menangani Covid-19. Kunjungan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Kordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy ke NTB baru-baru ini menjadi sorotannya.

“Dalam satu minggu ini sudah ada dua menteri datang ke NTB, membuat keramaian, mengundang bikin acara-acara seremoni, mengumpulkan orang banyak.

“Memang pakai masker, tapi tidak ada jaga jarak. Itu yang kemudian orang melihat itu, ini apa? Sangat wajar kemudian ketidakpercayaan itu muncul,” kata Latif.

Diakses dari covid19.go.id, per 31 Agustus 2020, NTB berada di urutan ke-14 nasional, dengan 2.742 kasus dan jumlah 159 kasus kematian.

Kritik diduga dihadang peretasan

Kritik terhadap pemerintah dalam menangani Covid-19 selama ini muncul dalam berbagai diskusi virtual, pemberitaan media, dan media sosial.

Namun, walau dibantah pemerintah, belakangan muncul dugaan bahwa peretasan internet secara sistematis digulirkan untuk membungkam kritik tersebut.

LBH Pers, Senin 24 Agustus lalu, mewakili media TEMPO.co dan Tirto.id ke Polda Metro Jaya untuk melaporkan peretasan yang terjadi terhadap kedua media tersebut.

Peretasan TEMPO.co terjadi Jumat dini hari, 21 Agustus. Tampak layar situs media daring itu menampilkan warna putih dengan tulisan ‘403 forbidden’.

Setelah itu layar berubah menjadi warna hitam bertuliskan “Stop HOAX, Jangan Bohongi Rakyat Indonesia, Kembali ke etika jurnalistik yang benar, patuhi dewan pers. Jangan berdasarkan ORANG yang BAYAR saja. Deface by @xdigeeembok.”

Sementara itu, Tirto.id juga diretas pada hari yang sama. Tindakan dilakukan peretas dengan menghapus sejumlah artikel dari situs media itu, terutama dalam keterlibatan BIN dan TNI dalam produksi obat Covid-19.

Di hari yang sama juga, selain dua media massa, peretasan juga terjadi terhadap situs Cisdi.org, LSM yang kerap menyoroti penanganan Covid-19. Aksi peretasan ini menyebabkan hilangnya sejumlah dokumen yang telah diterbitkan.

Hentikan Twitter pesan, 1

Lompati Twitter pesan, 1

Bukan hanya media, akun Twitter ahli epidemiologi, Pandu Riono juga telah diretas pada 19 Agustus 2020. Postingan terakhir dari Pandu Riono menyebutkan kritik terhadap penggunaan rapid test antibody.

Direktur Eksekutif LBH Pers, Ade Wahyudin menilai aksi kritik yang dibalas dengan peretasan ini ‘sangat buruk sekali’ bagi iklim demokrasi. Aksi peretasan ini membuat publik tak bisa mendapatkan informasi yang lengkap.

“Yang paling dasar adalah publik yang menjadi korban, sehingga dalam konteks demokrasi ini, menghambat karena soal penyebaran informasi yang tidak selesai kepada publik,” kata Ade kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/08).

Namun, dari serangkaian aksi peretasan ini, tak ada satu pun pihak yang menyatakan bertanggung jawab.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah selalu menampung kritik dengan berbagai macam cara.

“Dengan dari media tanya ke kita, itu sebenarnya dia ambil dari masyarakat, terus kemudian berita-berita sosial, itu juga kita rekam sarinya apa saja, isunya, dan itu kita dapati itu seluruhnya,” katanya kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/08).

Wiku menambahkan, pemerintah memiliki tim studi media untuk menampung kritik dari masyarakat melalui media massa dan media sosial, mulai dari isu harian dan mingguan.

“Tim Komunikasinya Kominfo kan juga ada. Semua berita yang ada di hoaks atau bukan, itu mereka punya,” katanya.

Bagaimanapun, keberadaan wayang botol pada akhirnya ikut mewarnai diskursus tentang penanganan Covid-19.

Pendiri Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Fitri Rachmawati, mengatakan melalui wayang botol, ia berharap ide dan gagasan tentang sesuatu lebih mudah diserap semua kalangan masyarakat.

“Wayang itu ternyata bisa menjadi media yang sangat kuat untuk menyadarkan masyarakat,” kata Pikong, sapaan Fitri Rachmawati.

Penggunaan botol sebagai media wayang, menurut Pikong, juga menjadi upaya mengurangi sampah botol plastik dengan ‘sentuhan seni’. Ini dianggapnya dapat menjadi pembelajaran untuk anak.

“Menjadi jembatan pengembangan (kreativitas) dan pelestarian Wayang Sasak,” kata Pikong.

Yayasan Pedalangan Wayang Sasak berdiri sejak 2015 di tengah keprihatinan terhadap seni tradisi ini yang semakin memudar.

Sekolah Pedalangan Wayang Sasak didirikan agar anak-anak, khususnya di Lombok, tidak kehilangan jejak terhadap budaya leluhur. Saat ini, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak memiliki 35 anggota, termasuk remaja dan anak-anak.

“Kami ingin mewujudkan generasi yang baik, yang memberikan informasi, yang memberikan kabar, tentang apa saja, yang menurut saya bersentuhan dengan kebaikan,”kata Pikong.

Dia yakin, bermain peran karakter wayang akan menanamkan kebaikan pada anak-anak.

Sunan Satria Aji Sultan adalah salah satu dalang cilik dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. Siswa kelas 5 Sekolah Dasar ini berkata sudah menyukai wayang sejak dua tahun lalu.

“Seru, bisa gerak-gerakin (wayang), sambil buat-buat suara,” kata Sunan yang bercita-cita pentas di dunia internasional ini.

Begitupun Alliya Pijar Buana, 11 tahun. Ia mulai gemar bermain wayang saat menghibur anak-anak korban gempa lombok 2018 yang menewaskan 564 jiwa.

Saat itu, Alliya berkeliling di tenda-tenda pengungsian, mengumpulkan anak-anak sebayanya. Dia kini mampu mendongeng dan memainkan karakter wayang yang ia ciptakan sendiri.

“Ada cerita tentang asiknya bersikap jujur. Jadi kita itu jujur, jadi tidak boleh berbohong. Terus ada karakter-karakternya juga banyak,” kata Alliya.

Pikong meyakini, pertunjukan wayang akan selalu memiliki tempat pada masyarakat Indonesia, meskipun menghadapi kemajuan teknologi yang mencuatkan berbagai hiburan baru.

“Meskipun banyak media hiburan lain, wayang tetap menjadi medium yang dirindukan. Yang disukai oleh siapa pun,” katanya.