Resesi: 'Resesi ekonomi di depan mata' - ekonomi Indonesia menyusut intelek pada triwulan kedua, 'yang terburuk sejak dihantam krisis moneter 1998'
News

Resesi: ‘Resesi ekonomi di depan mata’ – ekonomi Indonesia menyusut intelek pada triwulan kedua, ‘yang terburuk sejak dihantam krisis moneter 1998’

  • Resty Woro Yuniar
  • BBC News Indonesian

Untuk pertama kalinya sejak dihantam krisis moneter 1998, ekonomi Indonesia mengalami penyusutan atau kontraksi di dalam triwulan kedua, menurut data Pranata Pusat Statistik (BPS). Ekonom menghargai hal ini menandakan “resesi ekonomi sudah di depan mata”.

Dalam pengumuman pada Rabu (05/08), BPS menyatakan angka Produk Domestik Bruto pada triwulan II 2020 menyusut sebesar 5, 32%.

Penyusutan itu lebih besar dari prediksi pemerintah dan Bank Indonesia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi PDB di kuartal II akan jeblok -3, 8%, sementara Bank Nusantara memprediksi penurunan sebesar -4, 8%.

“Perekonomian Indonesia pada triwulan II 2020 secara y-o-y, dibandingkan triwulan II 2019 mengalami kontraksi sebesar 5, 32%. Kalau kita bandingkan secara triwulan I 2020, atau q-o-q, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II ini juga mengalami kontraksi -4, 19%, ” perkataan Suhariyanto, Kepala BPS.

Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan bahwa kontraksi PDB tersebut berarti “situasi resesi ekonomi sudah di depan mata. ”

“Di kuartal III kemungkinan besar kita akan resesi, kalau melihat kuartal II ini kita cukup di dalam minusnya, ” kata Bhima.

“Yang perlu diperhatikan ini kan adanya penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga, karena adanya pandemi mewujudkan masyarakat tidak yakin untuk berbelanja, dan akhirnya berpengaruh juga pada industri manufaktur yang turun dan sektor perdagangan turun. ”

Ia mengatakan, ini adalah penurunan ekonomi tahunan Indonesia terburuk pertama semenjak dihantam krisis moneter 1998—ketika tersebut, ekonomi Indonesia anjlok sampai minus 13, 13%.

“Resesi itu membangun dua kuartal berturut-turut [pertumbuhan PDB] kita negatif, resesi dengan sesungguhnya itu nanti ketika kita kuartal ketiga kita akan negatif, ” ujar Bhima.

“Tapi tersebut ketika penurunannya relatif tajam dengan year-on-year, maka bisa dikatakan itu resesi technical, jadi secara petunjuk ini sudah menunjukkan adanya resesi karena penurunannya cukup tajam sebab tidak mungkin di kuartal III bisa kembali positif. ”

Nusantara masih mencatatkan pertumbuhan PDB pada kuartal I sebesar 2, 97%. Indef memprediksi bahwa penurunan dalam kuartal III akan sebesar -1, 7%.

Jika ekonomi mendatangi resesi, para pencari kerja di Indonesia bisa kesulitan mencari lowongan pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan.

Pendapatan korporasi dan pelaku cara juga bisa menurun lantaran berkurangnya daya beli masyarakat, kata seorang pengamat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani telah dua kali membeberkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam kuartal berjalan dan beberapa kuartal ke depan, dan proyeksinya suram.

Pertumbuhan PDB pada kuartal III, yang dimulai bola lampu Juli, diprediksi akan tumbuh dalam kisaran 1, 4%, atau melemah sampai minus 1, 6%.

Untuk kuartal IV, pemerintah Indonesia meminta ekonomi mulai mencatatkan pertumbuhan 3, 4%, atau paling sedikit 1%.

Jika pertumbuhan ekonomi minus di dua triwulan berturut-turut, maka bisa dikatakan Indonesia mengalami resesi, kata pendahuluan Sri Mulyani.

“Kami harapkan di kuartal III dan kuartal IV (2020), pertumbuhannya bisa recover (pulih), di hal ini bisa 1, 4 persen atau kalau seandainya kita dalam zona negatif, bisa saja minus 1, 6 persen.

“Itu yang saya sebutkan technically kita mampu resesi kalau kuartal II negatif, kuartal III nya juga negatif, maka Indonesia secara teknis mampu resesi, ” kata Sri Mulyani saat rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Senin (22/06).

Sulitnya mencari lapangan pekerjaan

Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, dampak sebab resesi yang berpotensi paling dirasakan masyarakat adalah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, disusul dengan jatuhnya daya beli masyarakat karena berkurangnya pendapatan.

“Kenapa lapangan pekerjaan jadi suram [ditemukan]? Karena aktivitas-aktivitas ekonomi belum kembali normal.

“Kemarin dunia usaha mengatakan, begitu ada pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), karena masih harus memenuhi adat Covid-19, maka pekerja-pekerja yang itu rumahkan tidak full 100 persen mereka bisa pekerjakan kembali.

“Kemungkinan, buat rata-rata industri, yang bisa mereka pekerjakan kembali tinggal 50 tip, artinya 50 persen sisanya tersebut, yang sudah terlanjur terdepak sejak lapangan kerja ini, mereka kudu mendapatkan pekerjaan dari mana? ” kata Enny saat dihubungi BBC Indonesia pada Selasa (23/06).

Kejadian itu tengah dirasakan oleh Dimas Aji Pratama, yang telah kehilangan pekerjaannya di sebuah ritel akibat pandemi Covid-19.

Pria berusia 24 tahun asal Purwokerto, Jawa Sedang tersebut baru bekerja selama kurang lebih dua bulan ketika dia dipanggil staf personalia untuk diberi surat Pemutusan Hubungan Kerja.

“Saya baru masuk dunia kerja, awal masuk Februari, terus dapat PHK akhir April, ” kata Dimas, yang baru lulus kuliah di dalam November tahun lalu tersebut.

Dia tidak sendiri. Rekan-rekannya sesama peserta pelatihan manajemen di sebuah gerai ritel di Jakarta tersebut, secara jumlah 42 orang, juga di-PHK secara bergiliran.

Setelah di-PHK, ia memutuskan kembali ke panti orangtuanya di Purwokerto. Setelah Lebaran, Dimas menghabiskan waktu sehari-harinya buat melamar pekerjaan, namun hingga kini belum mendapat panggilan.

“[Saya sudah melamar ke] cukup banyak [perusahaan], lebih dari 20, ” sekapur Dimas.

“Sampai saat ini sedang belum ada kabar, karena beta juga baru mulai mencari order lagi setelah Lebaran kemarin.

“Kalau saya sendiri merasanya cukup pelik untuk mencari pekerjaan, apalagi kami berdomisili di luar Jabodetabek, karena kebanyakan perusahaan, kalau kita apply saat ini, pastinya harus ada proses interview , saya harus berangkat dari Purwokerto ke Jakarta dan dari sisi transportasi pula sulit. ”

Dimas kini kudu mengetatkan ikat pinggang. Ia merupakan tulang punggung keluarga, mengingat dia tinggal bersama ibunya yang berjualan jajanan pasar.

Usaha sang ibu memberikan Dimas inspirasi usaha jika ia masih sulit mendapatkan order dalam beberapa bulan ke ajaran.

“Kalau misal dalam beberapa bulan ini, masih sulit untuk berlaku, kemungkinan saya mencoba buat buka usaha. Misalnya usaha makanan, ataupun mencoba mengembangkan usaha orang tua, ” kata Dimas.

Dalam resesi, getah perca sarjana baru, atau fresh graduate , yang mengaduk-aduk pekerjaan untuk pertama kalinya agak-agak akan sulit mendapatkannya. Ini telah diantisipasi oleh Putri Nurdivi Djamil, yang akan lulus kuliah September mendatang.

“Ketika kemarin aku ngobrol pada tempat magang aku, itu agency advertising sama public relation , dua-duanya sekarang sedang hiring freeze . Makin intern s aja pun mereka tidak hire .

“Jadi yang seperti ini susah banget. Makanya aku juga struggling , aku belakangan ini, di dalam empat tahun terakhir melakukan penuh hal, kita improve our skills ourselves , tapi ujung-ujungnya ini.

“Bukan karena kita tidak kompeten, tapi karena jadi salah satu masalah yang menyesatkan kencang adalah bisnisnya juga semakin tidak jalan, ” kata mahasiswi yang tengah menyelesaikan kuliah pada Jepang tersebut, tapi tidak mampu kembali ke sana karena epidemi virus corona.

Putri menambahkan beban sarjana yang lulus tahun ini lebih berat karena mereka tidak hanya bersaing sesama angkatan 2020, namun juga mereka yang lolos tahun lalu, seperti Dimas, yang masih mencari pekerjaan atau tersentuh PHK saat ini.

Apa itu resesi?

Enny Sri Hartati, direktur Indef, mengatakan bahwa ekonomi sebuah negara bisa dikatakan mengalami resesi jika terjadi “penurunan ekonomi secara eksesif. ”

Enny mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjelma kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia mencatatkan inflasi yang betul rendah pada bulan Mei, cuma 0, 07 persen, salah mulia indikasi bahwa daya beli bangsa sedang sangat jatuh.

Inflasi merupakan kenaikan harga barang-barang dan jasa dengan salah satunya disebabkan oleh melonjaknya permintaan. Oleh karenanya, daya beli masyarakat yang lemah bisa menurunkan tingkat inflasi.

Belanja rumah nikah jelang Hari Raya Idul Fitri dan sepanjang Ramadan, yang tahun ini jatuh pada bulan Mei, selama ini bisa diandalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal yang mencakup bulan dan hari suci umat Islam tersebut.

Rendahnya daya beli masyarakat saat Lebaran bisa menjadi indikasi bahwa ekonomi pada periode April-Juni tidak muncul dan justru melemah, atau kurang.

Resesi akan terjadi jika Indonesia mencatatkan pertumbuhan minus dalam perut triwulan berturut-turut.

“Kalau di triwulan dua, otomatis karena ada pemberlakuan PSBB dan dampak pandemi yang telah berjalan lebih dari perut bulan terhadap daya beli & konsumsi rumah tangga, yang dampaknya jauh lebih besar daripada pada triwulan satu.

“Maka banyak yang memberikan simulasi bahwa [pertumbuhan ekonomi] untuk triwulan dua sudah pasti minus, ” jelas Enny.

“Cuma minusnya berapa, itu sangat tergantung dari bansos dari pemerintah, seberapa efektif, itu untuk menopang penurunan daya beli masyarakat.

“Tapi kalau kita lihat dari rilis Lembaga Pusat Statistik [BPS] di bulan Mei, inflasi betul rendah hanya 0, 07%, padahal ada hari raya, itu menunjukkan bahwa mitigasi dalam hal pelestarian sosial relatif tidak efektif.

“Daya beli masyarakat benar-benar drop . Yang kedua, merupakan penjualan ritel yang juga minus untuk bulan April dan Mei, sehingga itu yang menyebabkan potensi kita menghadapi kontraksi ekonomi, kalau tidak disebut resesi atau kemajuan minus, itu sangat besar, ” tambahnya.

Apa upaya pemerintah mengatasinya?

Ujung bicara Kementerian Keuangan Rahayu Puspasari mengatakan bahwa pemerintah telah membuktikan upaya terbaiknya agar penyaluran stimulus-stimulus dan anggaran, yang tercakup di dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar 695, 20 triliun rupiah, efektif di lapangan.

“Stimulus fiskal yang sudah dikeluarkan pemerintah, kepala per satu mulai diimplementasikan, tentunya dengan berbagai dinamika di lapangan, mengingat pertama, peristiwa [pandemi Covid-19] ini shocking , kepada kita semua, pada mana kita harus cepat-cepat menyiapkan uang dan tata kelolanya juga.

“Jadi saya kira semua bagian mencoba at their best effort buat melakukan hal ini, ” logat Rahayu.

Ia menambahkan, Kemenkeu telah menyiapkan tim yang khusus memperhatikan dan mengevaluasi penyaluran stimulus dalam program PEN tersebut.

“Per tiga hari kita melakukan konsolidasi & setiap minggu ini dibicarakan secara Menkeu untuk dicarikan solusi-solusinya sesuai apa.

“Ini supaya penyerapan berlaku lebih cepat dari anggaran dengan sudah dialokasikan. Kedua supaya cepat sampai ke beneficiaries atau mereka dengan menikmati manfaat [program] tersebut. Kita tidak punya luxury time berlama-lama dan ini butuh kolaborasi bersama, ” ujar Rahayu.

Berapa lama resesi akan terjadi?

Final kali Indonesia mengalami krisis ekonomi masif adalah pada krisis moneter 1997-1998. Enny Sri Hartati mengutarakan Indonesia membutuhkan waktu lebih dibanding lima tahun untuk bangkit.

“Berdasarkan pengalaman kita menghadapi krisis ’97-’98 saja tidak cukup lima tarikh untuk benar-benar pulih. Dampak pandemi itu jauh lebih berat daripada krisis ’97-’98.

“Karena krisis ’97-’98 itu hanya beberapa sektor dengan berdampak, kali ini dampaknya semesta sektor, ” kata Enny.

Walaupun demikian, Enny mengatakan pemerintah nampaknya telah mengantisipasi krisis ekonomi akibat pandemi akan berlangsung selama tiga tahun, jika melihat dari perilaku pemerintah yang menerbitkan aturan perkara relaksasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang menyetujui defisit APBN di atas 3% selama tiga tahun.

Defisit APBN terjadi apabila pengeluaran negara lebih besar dari pendapatannya.

Dalam krisis ekonomi, pemerintah mungkin menggontorkan pengeluaran dengan lebih besar untuk merangsang daya beli masyarakat lewat program-program seperti bantuan sosial atau pengurangan bunga atas cicilan kredit masyarakat.

“Artinya mereka memprediksi dalam tiga tahun minimal [ekonomi] bisa pulih, artinya ‘pulih’ itu adalah kegiatan ekonomi sudah mulai normal.

“Tapi kalau pulih yang betul-betul mampu untuk akselerasi [pertumbuhan] dan sebagainya, itu bersandar pada respon kebijakan pemulihan ekonomi selama 2-3 tahun [ke depan] ini, ” jelas Enny.

Artikel ini diperbarui di Rabu (05/08), setelah Badan Was-was Statistik menyatakan angka Produk Domestik Bruto pada triwulan II 2020 menyusut sebesar 5, 32%.