Covid-19 Indonesia terus naik: 'Orang yang tak taat protokol makin banyak' karena 'masyakarat menengah bawah ngak paham'?
News

Covid-19 Indonesia terus naik: ‘Orang yang tak taat protokol makin banyak’ karena ‘masyakarat menengah bawah ngak paham’?

  • Raja Eben Lumbanrau
  • BBC News Dalam negeri

Presiden Jokowi meminta perubahan cara sosialisasi protokol Covid-19 yang dinilainya kaga efektif bagi masyarakat menengah bawah. Namun pakar epidemiologi yang mengadakan riset tentang tingkat kepatuhan rakyat terhadap protokol Covid-19 mengatakan pemicu terus naiknya kasus positif pada Indonesia adalah sosialisasi yang amet bersifat satu arah atau diseminasi informasi.

Presiden Joko Widodo – dalam pembukaan rapat terbatas yang membahas penanganan Covid-19 matan de pemulihan ekonomi nasional – pada Jakarta pada Senin (03/08), mengatakan bahwa “orang yang tidak taat pada protokol kesehatan tidak makin sedikit tapi semakin banyak. inch

“Kalau (sosialisasi) barengan mungkin yang menengah atas bisa ditangkep dengan pesat, tapi yang di bawah indonesia menurut saya memerlukan (sosialisasi) 1 per satu, ” tambah Jokowi

Di tengah kondisi terus meningkatnya kasus positif yang sampai Senin (03/08) mencapai lebih dari 113. 000, Jokowi meminta agar sosialisasi lebih digencarkan termasuk dengan melibatkan peran ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari rumah ke vila.

Epidemiolog dari Universitas Padjajaran, Deni Kurniadi Sunjaya – yang melangsungkan riset terkait sosialisasi, mengatakan penyebab terus bertambahnya kasus Covid-19 di dalam Indonesia disebabkan pemerintah tidak punya program nyata dalam melaksanakan sosialisasi yang terencana, terukur, dan mendapat dievaluasi.

“Upaya pemerintah bukan sosialisasi tapi lebih ke diseminasi kejelasan, akibatnya sulit menciptakan kesadaran ulah di masing-masing individu untuk menerapkan protokol kesehatan, ” kata Deni.

Ia pun menyebut salah besar jika beranggapan bahwa masyarakat menengah bawah cenderung tidak mematuhi protokol kesehatan. Perilaku tidak taat kepada protokol kesehatan, menurutnya, tidak memahami tingkat lapisan kelompok sosial setelah itu ekonomi masyarakat.

Walaupun sebenarnya, berlandaskan survei yang dilakukan Deni lalu tim Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjajaran, menunjukkan mayoritas masyarakat Dalam negri cenderung memiliki sikap patuh akan mengikuti protokol kesehatan berupa pemakaian masker, jaga jarak, dan cuci tangan jika sosialisasikan dilakukan akan tepat.

Pedagang tisu: Saya tidak mendapat sosialisasi dan tidak takut terkena corona

BBC Indonesia menanyakan kepada kurang lebih warga di Makassar, Sulawesi Selatan, satu diantara zona merah, terkait protokol penggunaan masker dan jaga jarak.

Seorang pedagang tisu bernama Nur Hanah saat ditemui sedang tidak mempergunakan masker dan tidak mematuhi peraturan jaga jarak saat menjajakan dagangannya.

Saat ditanya mengapa tidak berpedoman masker, Hanah menjawab: “(Masker) telah dipakai, dicuci, nda (belum) kering menjadi nda (belum) dipakai, ” kata Hanah kepada wartawan di Sulawesi Selatan, Darul Amri, yang melaporkan guna BBC News Indonesia, Senin (03/08).

Hanah dimana hanya memiliki satu masker pun mengatakan tidak pernah mendapatkan sosialisasi protokol kesehatan dan juga masker dari pemerintah.

Dia mengatakan “tidak takut corona, karena kalau hendak nakena (terkena) ya nakena maki (terkena saja)”.

Bila mendapatkan sosialisasi dan bantuan melalui pemerintah, ia akan patuh utk menjalankan protokol kesehatan.

‘Sesak napas dan berjerawat’

Senada, penjaga warung kopi di Makassar bernama Nur Ainun Putri, 22 1 tahun, mengatakan tidak menggunakan masker kali bekerja.

Ia mengungkapkan tidak terbiasa untuk menggunakan masker dalam waktu yang lama.

“Kalau pakai masker saya rasa capek, bikin gangguan kulit dan berjerawat kalau digunakan sehari-hari, sesak napas juga \ lama dipakai, ” katanya.

Apakah pernah mendapatkan sosialisasi tentang pentingnya protokol kesehatan? Putri menggelengkan kepala.

Ia mengungkapkan akan mematuhi protokol kesehatan seandainya pihak otoritas memberikan respom atas permasalahan yang dihadapi setelah itu mendapatkan sosialisasi langsung.

Berdasarkan data Minggu (02/08), jumlah kasus positif terkonfirmasi di Kota Makassar mencapai 3. 769 orang.

Adapun berdasarkan peta zonasi resiko nasional Covid-19, Makassar adalah satu dari 53 kabupaten/kota yang masuk dalam zona merah.

‘Salah besar’ soal menengah bawah

Epidemiolog dari Universitas Padjajaran, Deni Kurniadi Sunjaya, menyebut penyebab selalu meningkatnya penyebaran virus corona bukan karena masyarakat menengah ke bawah yang tidak patuh, melainkan gara-gara dari kesalahan tafsir dan sistem pelaksanaan sosialisasi yang dilakukan akibat pemerintah.

“Yang dilakukan bukan sosialisasi tapi diseminasi informasi. Pemerintah mengatakan mari pakai masker, apapun blogging harus pakai masker, masker boleh melindungi anda, respek orang lain dengan pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Itu yaitu diseminasi informasi, ” kata Deni.

Cara komunikasi satu arah yg dilakukan pemerintah dengan hanya membantu informasi tersebut, tambah Deni, membuat masih banyak masyarakat yang \ memahami dampak virus corona hingga menyepelekan protokol kesehatan.

“Saat PSBB dibuka, saya salat di arena terbuka, lalu seseorang berdiri di dalam sebelah kiri saya tanpa jarak. Saat saya sampaikan jaga jarak malah marah-marah. Ini karena kesalahan dalam sosialisasi, yang berdampak penduduk berpikir tidak perlu laksanakan protokol kesehatan padahal kondisi ini tampaknya akan sampai satu hingga tiga tahun mendatang sebelum ada vaksin.

“Salah besar jika dikatakan menengah bawah [yang tidak patuh], karena hampir seluruh kalangan yang mengabaikan protokol kesehatan. Kalangan atas tidak pakai masker saat ketemu teman, rekan kerja dan keluarga jauh, tengah banyak, ” tambah Deni.

Sedangkan sosialisasi, menurut Deni, adalah satu program yang terdiri dari kumpulan kegiatan, seperti diseminasi informasi, gerakan, dengan tujuan menciptakan kesadaran serta perilaku masyarakat dari ancaman Covid-19.

Akan dibuatnya satu program sosialisasi, sebutan Deni, maka akan terlihat mekanisme yang jelas, dukungan sumber daya maksimal, dan adanya alat ukur evaluasi program.

“Contoh program itu Kemenkes jadi koordinatornya lalu diturunkan ke kementerian, seperti Kementerian Yang Negeri yang menurunkan ke bupati/walikota, lalu camat, lurah, RT atau RW. bagaimana melakukan sosialisasi, dgn cara apa. Itu akan efektif. Lalu diberik sanksi dan penghargaan yang tegas, ” katanya.

Menurut Deni, berdasarkan riset yang dikerjakan Prodi Magister IKM FK Universitas Padjajaran, sebanyak 60-70% masyarakat patuh melaksanakan protokol kesehatan.

“Namun tuk mereka yang tidak patuh ini karena tidak tepatnya sosialisasi untuk menimbulkan kesadaran dalam berperilaku, lunch break kata Deni.

Presiden Jokowi: Besarnya yang tidak taat meningkat, sosialisasi harus fokus dan masif

Presiden Joko Widodo menyadari peran penting sosialisasi protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran virus corona.

“Kita tahu hingga kemarin sudah ada 111 ribu lebih kasus dengan case fatality rate 4, 7% dan angka kematian di Indonesia ini lebih banyak 0, 8% dari kematian modern world. Ini saya kira yang sebagai PR besar kita bersama. Selain itu juga casing recovery rate di negara kita, data terakhir merupakan 61, 9 (%). Ini ya kira juga bagus, terus meningkat angkanya, ” jelasnya.

Oleh sebab itu, Jokowi kembali meminta agar penerapan protokol kesehatan terus disosialisasikan kepada masyarakat secara masif. Secara spesial, Jokowi ingin agar sosialisasi ini dilakukan secara terfokus dan ngak dilakukan secara sekaligus.

“Kalau (sosialisasi) barengan mungkin yang menengah atas sanggup ditangkep dengan cepat, tapi yg di bawah ini menurut saya memerlukan (sosialisasi) satu per satu, ” kata Jokowi saat rapat terbatas ‘Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional ‘ di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (03/08).

“Saya pengen agar yang namanya protokol kesehatan, perubahan perilaku di masyarakat betul-betul menjadi perhatian kita. Saya pengen fokus saja, seperti yang aku sampaikan yang lalu, mungkin untuk dua minggu ini kita fokus kampanye mengenai pakai masker. Nanti dua minggu berikut kampanye kawal jarak atau cuci tangan umpama, ” ungkapnya.

Presiden juga meminta supaya peran ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Family (PKK) dilibatkan. Menurutnya, jika ibu-ibu PKK siap, maka mereka dapat menjadi cara yang efektif yang menyosialisasikan protokol kesehatan dari rumah ke rumah.

“Saya kira PKK tersebut juga sangat efektif untuk door to door urusan masker. Urusan perubahan perilaku betul-betul harus kita buat dengan komunikasi di TV, di dalam medsos, dan lain-lain secara masif dalam dua minggu ini oleh cara-cara yang berbeda, ” imbuhnya.

‘Kami telah melakukan sosialisasi’

Ketua PKK Kota Makassar, Rossy Timur Wahyuningsih, mengatakan, dia bersama ketua PKK Provinsi Sulawesi Selatan dan PKK Kecamatan se-Kota Makassar sudah melakukan sosialisasi protokol kesehatan.

“Kalau tidak salah tersebut sekitar dua minggu yang dan ya, saya dengan ibu gubernur sudah turun ke jalan sosialisasi penggunaan masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak. Hal tersebut secara bersamaan juga dilakukan di PKK kecamatan, ” kata Rossy Timur melalui sambungan telepon.

Sosialisasi ini menurut istri penjabat (Pj) Walikota Makassar, Rudy Djamaluddin sudah dilakukan sampai pada tingkat kelurahan, RT dan RW. Bahkan, selama sosialisasi berlangsung, PKK juga membagi-bagikan masker secara cuma-cuma ke masyarakat.

“Di PKK itu ada kelompok dasawisma, nah kelompok inilah yang turun langsung untuk sosialisasi termaksud di oleh kegiatan PKK, entah itu pencaharian posyandu dan lainnya. Insya Kristus kegiatan yang dilakukan pada tingkat dasawisma itu bisa dilakukan door to door , ” jelas Rossy Timur.

Sebelumnya, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta penyampaian sosialisasi bahaya Covid-19 tidak hanya bahasa Indonesia, tetapi juga melalui bahasa lokal agar pesan tersampaikan.

Selain itu, sosialisasi juga turut melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat di tingkat desa.

Berlandaskan data hingga Senin (03/08), terjadi penambahan 1. 679 kasus hingga total menjadi 113. 134 kasus konfirmasi di seluruh Indonesia.

Sedangkan untuk korban meninggal bertambah sixty six kasus menjadi 5. 302 fall, dan kasus sembuh bertambah you. 262 menjadi 70. 237 jamaah dinyatakan sembuh.