Kisah waria menjadi pejabat publik, 'dulu berjubah biarawan sekarang berdaster'
News

Kisah waria menjadi pejabat publik, ‘dulu berjubah biarawan sekarang berdaster’

  • Muhammad Irham dan Dwiki Marta
  • BBC News Nusantara

Bunda Mayora Victoria, yang disebut-sebut sebagai penguasa publik dari kalangan transpuan atau waria pertama di Indonesia, merancang sejumlah terobosan kebijakan untuk pemberdayaan kelompok marjinal di desanya.

Meski sejumlah orang masih meragukan kemampuan karena identitasnya sebagai waria dan komunitasnya, mantan biarawan itu berpegang teguh pada rencana buat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dari kelompok perempuan dan marjinal.

Dalam pemilihan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Habi, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Mayora mengalahkan sebanyak rivalnya, yang sebagian adalah tipu masyarakat sekaligus mantan pejabat kawasan.

Perintah dan peran BPD mirip bagaikan DPR: menggali, mengolah dan meneruskan aspirasi masyarakat, termasuk menetapkan anggaran dan rancangan peraturan bersama secara kepala desa.

Enam tiga puluh pagi. Suara ayam berkokok saling bersahutan, menandakan fajar segera menyingsing di langit pinggiran Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Membangunkan orang-orang untuk segera beraktivitas, termasuk Mayora.

Setelah membuka mata, lantunan doa samar terdengar di kurun suara kipas angin yang sedang berputar.

“Bantu saya Tuhan, untuk bisa mengerjakan aktivitasku di hari ini. Berkatilah seluruh kegiatanku Berkatilah setiap orang yang saya jumpai. Berkatilah orang-orang yang saya kasihi, ” ucap Mayora sambil beranjak sejak tempat tidur.

Di belakang rumah terdapat negeri garapan seluas setengah lapangan bulutangkis, yang sudah ditanami pohon sayur-sayuran. Di sebelahnya, terdapat kamar mandi berdinding seng, yang terpisah dibanding bangunan utama.

“Selamat pagi sayur-sayurku, ” sapa Mayora seraya mengambil sedang dan menyirami pohon-pohon yang mutakhir tumbuh itu. Memanfaatkan tanah nihil ini disebutnya sebagai bagian sebab ‘ketahanan pangan’.

Setelah itu, Mayora mulai merapikan tumpukan piring kotor buat dicuci, sambil mengatakan, “Ini bukan rumahku. Ini rumah kita beriringan. ”

Selama dua tahun terakhir, Mayora tinggal di sekretariat Fajar Sikka. Sebuah sistem transpuan atau waria di Kabupaten Sikka yang ia dirikan sesudah pulang dari perantauan.

Sekretariat yang disewa ini berukuran sekitar 40 meter persegi. Dindingnya hanya sebagian dilapisi cat. Langit rumah tanpa plafon, sehingga bisa terlihat susunan palang kayu dan lembaran asbes kala menatap ke atas.

Di Fajar Sikka, kelompok transpuan biasa berkumpul mendiskusikan masalah mereka sendiri dan bangsa. Mereka kemudian bersama-sama mencari solusi, dan mengambil tindakan.

Sebelum berangkat kerja ke Kantor Desa Habi. Mayora bersolek, menyapu wajah secara bedak, dan lipstik merata dalam bibir.

Ia kembali mengingat zaman kecilnya, saat pertama kali menggunakan lipstik. Saat itu, ia menggunakan pemerah bibir secara sembunyi-sembunyi dibanding patahan batang lipstik milik kakanda perempuannya.

“Yang sisa-sisa itu, bibir batangan, yang sudah patah, cungkil pakai lidi, ” katanya serupa tertawa geli.

Sudah make up. Sudah termasyhur. Sudah berpakaian rapi. Mayora menancap gas sepeda motornya ke pejabat Desa Habi.

Waktu yang dibutuhkan menempuh kantor desa memakan 10 menit. Tapi selama perjalanan, Mayora beberapa kali mampir ke rumah-rumah warga untuk bertanya kabar, jadinya waktu dihabiskan sekitar 30 menit.

Hari itu, Senin 13 Juli 2020, agenda rapat pengambilan keputusan transformasi anggaran desa untuk bantuan sosial kepada warga terdampak pandemi Covid-19. Disepakati, anggaran desa hampir Rp100 juta dialokasikan untuk bantuan tunai langsung kepada 105 keluarga.

“Rp300 ribu per keluarga per bulan. Diberikan untuk tiga bulan ke depan, ” kata Mayora yang sudah bekerja sebagai Wakil Ketua BPD selama dua bulan terakhir.

Selama masa pandemi, uang desa lebih banyak dicurahkan membangun warga yang terdampak: gagal pengetaman, kehilangan pekerjaan, dan kesulitan secara ekonomi.

Hal ini yang membuat Mayora terpaksa menutup sementara buku jadwal terobosan kebijakan untuk desanya. Akan tetapi segera, setelah pandemi berlalu, ia berjanji mendorong program usaha perempuan untuk ketahanan pangan.

Sepanjang musim besar ini, masyarakat di Sikka dengan umumnya bertani banyak mengalami batal panen. Ketahanan pangan menjadi sorotan Mayora, agar kelompok ibu berdaya di tengah masalah perekonomian.

“Misalnya kita pemanfaatan pekarangan rumah… kenapa kita tidak tanam pisang, pisang tersebut bisa kuat hidup dan mampu diambil juga pisangnya, untuk konsumsi. Itu untuk pemberdayaan dalam hal pengembangan usaha ketahanan keluarga meniti program Dasa Wisma, ” prawacana Mayora.

Dasa Wisma adalah program pemerintah pusat, berisi 10-20 ibu dari keluarga dengan bertetangga. Tugasnya, melancarkan program dari kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di tingkat kelurahan.

Melalui program itu juga ia merancang agar kawanan waria dilibatkan dalam aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan menjadi pelatih. “Karena teman-teman punya keahlian di bagian tata rias dan kecantikan. Anak-anak yang mau belajar pangkas rambut, di teman-teman waria, ” katanya.

Terobosan lainnya adalah memberi nama-nama bulevar di Desa Habi yang selama ini, seluruh jalan kecilnya disebut dengan nama yang serupa: lorong. “Kita berada di pinggiran kota tersebut kok belum ada nama-nama pekerjaan. Lorong ini belum ada nama jalan, itu yang kami kerjakan, ” kata Mayora.

Selain itu, ia juga cukup memikirkan tentang penguatan lembaga adat. Dengan penguatan lembaga adat, oleh karena itu ketika terjadi masalah-masalah tertentu dalam masyarakat tak langsung dibawa ke pengadilan, tapi bisa diselesaikan secara adat.

Maria Nona Lore, Kepala Daerah Habi mengaku mendukung ide Mayora. Ia berencana untuk mengalokasikan sejumlah Rp100 juta, atau sekitar 12, 8% dari total dana desa Rp780 juta untuk program Dasa Wisma.

“Sekarang kan tiap RT sudah terbentuk dan ada kegiatan, & nanti kita kasih kan. Sesuai kebutuhan mereka, ” katanya.

Maria pula mengatakan memberikan hak yang serupa kepada waria di desanya terkait dengan program-program desa. “Artinya kita manusiakan. Toh sama, untuk hidup. Itu masuk hak asasi toh. Jadi apa pun keadaannya kita kudu terima, apalagi selama ini tak berbuat yang aneh-aneh, ” katanya.

Siapa Bunda Mayora?

Habi adalah salah satu desa pada pinggiran Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. Jumlah penduduk Sikka sebesar 321 ribu jiwa di mana pemeluk agama Islam adalah minoritas atau 7, 5%, sedangkan kebanyakan adalah pemeluk agama Kristen.

Pada 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sikka sebesar 64, 75 di bawah rata-rata angka nasional yaitu 71, 92. Sementara itu, rata-rata lama sekolah penduduknya tak sampai kelas 2 SMP.

Henderikus Kelan yang kini lebih dikenal Hendrika Mayora Victoria lahir di Tempat Habi, 34 tahun lalu. Zaman berusia 6 bulan, ia sudah dibawa merantau orangtuanya ke Merauke, Papua.

Ia mulai merasakan tanda-tanda jadi seorang perempuan sejak SD.

“Sudah mulai pakaian perempuan misalnya, (pakai) mama punya daster. Nekat berlaku film India, kelambu itu ana gunting dan bentuk seperti rok. Terus dijadikan baju untuk baju pengantin, ” kata Mayora.

Jati dirinya sebagai rani pun makin kuat saat beralih remaja. “Mimpi basah bukan bertemu dengan cewek tapi bertemu secara cowok. Terus dibelai-belai seperti India-India kayak gitu, ” kata Mayora yang mengaku punya impian menjelma seorang pastor.

Ia kemudian melanjutkan pelajaran Seminari Menengah di Merauke untuk menjadi bruder atau biarawan Katolik. “Waktu di Seminari, saat mandi, yang lain mandi telajang ngerasa biasa. Kalau saya mandi menutup handuk, duh tidak mau telanjang di antara laki-laki, ” kata Mayora sambil tersipu.

Tapi itu, belum lulus meyakinkan dirinya sebagai perempuan. “Saya menutup rapat benar-benar identitas genderku. Dan bahkan saya malu, aku takut ketika mendengar kalau orang bilang saya waria, ” katanya.

Pergumulan jadi seorang transpuan dengan agama yang dianutnya terus berlanjut. Pada 2008 ia melanjutkan pendidikan formatio sebagai Bruder di Yogyakarta di Vila Formatio Bruder CSA.

Tapi 2015, Mayora memutuskan keluar dari biara serta kembali ke Merauke. Ia sempat mengajar dan melakukan pelayanan di umat di Papua.

“Pas lagi keluar itu saya bergumul berat sekali. Saya tersiksa dengan individualitas gender saya, identitas iman aku, identitas seksualitas saya, ” katanya.

Lalu, pada 2017, Mayora memutuskan balik lagi ke Yogyakarta, berharap pergumulan identitas gendernya selesai, sehingga mampu menjadi laki-laki seutuhnya. “Siapa terang saya menjadi laki-laki yang jalan ketika saya di luar Merauke, ” katanya.

“Tapi sampai di sana (Yogyakarta) selalu sama. Saya tidak sembuh. Padahal tiap hari itu pergi ke gereja, sembahyang, doa. Saya tidak sembuh dari pergumulan identitas gender dan orientasi seksual saya serupa soal dosa iman Kristiani kami. ”

Selama pergumulan melawan diri tunggal ini, Mayora mengaku sampai menikmati vertigo, susah tidur, dan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.

Akhirnya, Mayora memutuskan untuk menjadi transpuan seutuhnya setelah bertemu dan mendapat inspirasi dari salah satu tokoh waria di Yogyakarta, Rully Malay. Dia pun bergabung dengan komunitas waria di Yogyakarta, dan merawat seorang waria tua.

Tapi persoalan ekonomi mendorongnya untuk pergi mengamen, termasuk menjelma pekerja seks transpuan. “Saya pernah mencari pekerjaan di luar mengamen, tidak bisa. Ya, ampun, ternyata kita waria ini di Yogya susah diterima. Saya lihat sedang banyak ketidakadilan di Yogyakarta, banyak waria yang disakiti di kian. ”

Untuk memutar video itu, aktifkan JavaScript atau coba dalam mesin pencari lain

Pernah saat ketika ia mengamen harus bergelut dengan petugas Satpol PP yang muncul hendak menangkap. “Satu-satunya waria yang berantem fisik dengan Satpol PP itu saya. Saya bilang, kenapa kamu tangkap saya? Tidak mengambil yang tukang korupsi, tidak mengambil yang tukang membunuh. Kami ini waria, ngamen, jual suara, nyanyi, ” cerita Mayora.

Singkat cerita, di dalam 2018 Mayora memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Kabupaten Sikka, NTT. Itu pun bukan minus penghakiman dari para kerabatnya, yang dulu mengidamkannya menjadi seorang biarawan.

“Ya ampun, dulu berjubah sekarang berdaster dan berdendong (berdandan). Pulang ke rumah semua menghakimi saya. Tapi kan saya tidak nakal, kami tidak buat apa-apa, saya kan cuma dandan. Dandan itu membentuk sekarang tren, ” katanya lengkap percaya diri.

Pelan-pelan, Mayora mulai menyerahkan pengertian tentang waria kepada kerabatnya itu, dan berhasil.

Bukan hanya pada kerabatnya, Dia juga mengajak teman-teman sesama waria di Maumere untuk berkegiatan sosial, mulai dari bimbingan pendidikan dalam anak-anak, aktif di kegiatan PKK, sampai menggalang bantuan untuk klan minoritas seperti lansia dan disabilitas.

“Ada (ibu) yang cerita, sebelum bertemu dengan Bunda Mayora, kami itu benci sekali dengan waria. Rasanya kami mau makan hidup-hidup, akan tetapi terima kasih Bunda Mayora telah menjelaskan waria seperti ini, ” katanya.

“Saya itu tidak pernah mempertimbangkan untuk jadi laki juga tak pernah memikirkan untuk jadi waria. Tapi ketika saya dilahirkan kayak begini, mosok saya mau tolak? Justru ketika menolak itu hamba merasa berdosa, bersalah. Akhirnya kami menemukan Tuhan pada kewariaanku itu. ”

Berbekal pengalaman pahit dan pergulatan panjang mencari kesejatian, Mayora lalu membentuk kelompok doa di komunitas waria dengan nama ‘Gembala Baik’ yang pada perjalanannya menjadi organisasi Fajar Sikka.

Lebih didengar saat menjadi pejabat publik

Pada Maret 2020, Mayora lulus pemilihan BPD mengalahkan lima rivalnya dari satu dusun. Salah satunya adalah mantan pejabat daerah pada Sikka, Yakobus Regang.

“Jadi masa kemarin kami kompetisi pemilihan BPD, ada teman yang unggul, saya akui. Sebenarnya, ini kan pilihan oleh rakyat, tetapi bukannya kita kalah lalu harus menghindar, ” kata Yakobus.

Bentuk dukungan Yakobus saat ini kepada BPD adalah menyampaikan sumbangsih gagasan terkait pembangunan tempat. “Pertemuan-pertemuan untuk membicarakan tentang pendirian desa dengan BPD, dengan kelompok, saya selalu hadir, ” katanya.

Saat pemilihan BPD, dukungan untuk Mayora lebih banyak datang dari kalangan ibu-ibu. Salah satunya adalah Yosefina Yasinta. Bagi perempuan berusia separuh abad ini, Mayora layak oleh sebab itu pemimpin desa karena pandai berkomunikasi dan dekat dengan anak-anak.

“Karena suka cara omongnya. Dia selalu sering dengan anak-anak, sering datang, kasih pelajaran ini lagi, ” kata Yosefina.

Tatkala itu, mantan biawaran ini selalu masih mendapat tempat bagi tokoh agama setempat. Pemuka agama Katolik, Romo Patrick Darsamugro mengatakan kehadiran transpuan di tengah masyarakat tak dapat ditolak ‘karena menjadi bagian dari Tuhan’.

“Kalau dia dilahirkan secara keadaan yang baik, kenapa tidak kita menerima dia. Kita menjadikan dia menjadi bagian dari komunitas, hidup bersama di tengah asosiasi, ” katanya.

Sementara itu, seorang pemimpin agama Islam di sana, Ahmadun Usman Thayyib mengakui toleransi di lingkungan masyarakat Sikka sangat mulia. Misalnya, dalam perayaan keagamaan, para-para tokoh agama saling mengundang buat makan bersama dan berbicara mengenai toleransi.

Hal itu berlanjut pada penerimaan ragam seks.

“Menurut saya itu, supaya bisa melihat dari sisi Kabupaten Sikka itu kenapa waria bisa diterima di minoritas muslim, itu karena pergaulan mereka. Sesama mereka tuh baik. Kepada kita, minoritas muslim ini juga baik bergaul secara mereka, ” kata Ahmadun.

Menurut Ahmadun, daerah-daerah lain bisa mencontoh Kabupaten Sikka mengenai penerimaan keberagamaan. Istimewa keberagaman gender, kata dia, kuncinya waria di Sikka mau mendengar nasihat tokoh agama dan kelompok.

“Karena mereka mau mendengar tokoh-tokoh agamanya apabila berpesan kepada mereka, itu dengar. Mereka ikuti, ” logat Ahmadun.

Tapi untuk nasihat mengubahnya menjadi laki-laki, kata Ahmadun, “Jadi jika Allah sudah tentukan begitu, sejenis sudah, tinggal kita nih selalu memberi nasihat terus. ”

Buat memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Namun, tak s emua warga setuju ketika ada waria menjadi pejabat publik. Seperti diutarakan Maria Magdalena Sigahitong, wargayang mengatakan waria ‘tidak terlalu pantas, karena memiliki stigma yang buruk’.

“Kalau misalnya secara cara seperti itu (berdandan), pemikiran masyarakat juga, kita untuk pada sebuah lembaga itu jadinya perkiraan risih, ” kata Maria.

Tapi sekadar lagi, kata dia, ‘semua tergantung pada masyarakat’. “Kalau waria ini terpilih, berarti masyarakat itu mempercayakan di luar dari stigma-stigma membatalkan yang lekat pada dia. Jika potensinya bagus kenapa tidak, ” kata Maria.

Sebab segala pro dan kontra tentang waria yang diyakini sebagai penguasa publik pertama di Indonesia, Mayora membuktikan sudah menjadi pilihan asosiasi sebagai representasi.

“Di Maumere, karakter memilih saya tidak sebagai waria saja. Tapi orang melihat aku dari perbuatan, pekerjaan. Karya saya. Pekerjaan saya, ” kata Mayora.

Mayora juga berharap seluruh waria pada Indonesia dapat masuk ke dalam struktur pemerintahan, untuk berjuang mengikis cap buruk yang selama ini melekat pada transpuan.

“Ketika kita berada di dalam sistem, kita mampu membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak di masyarakat. Bahkan berpihak kepada masyarakat, atau berpihak kepada sesama kita, ” katanya.

Tulisan ini ialah tulisan pertama dari rangkaian cerita mengenai mereka yang ikut berperan dalam 75 tahun kemerdekaaan Nusantara, meski kadang terlupakan atau terpinggirkan.