Salut kain: Yang diketahui sejauh itu soal utas viral 'pelecehan seksual' mahasiswa Surabaya
News

Salut kain: Yang diketahui sejauh itu soal utas viral ‘pelecehan seksual’ mahasiswa Surabaya

Sebuah utas di Twitter yang dibuat seorang mahasiswa menjadi viral sejak Rabu (29/07). Tali tersebut menuturkan pengakuannya yang dibujuk mahasiswa lain agar dirinya dibungkus kain dengan dalih riset akademik.

Melalui akun @m_fikris, mahasiswa bertanda Mufis menyusun sebuah utas secara judul ” Predator ‘Fetish Kain Jarik’ Berkedok Riset Akdemik dari Mahasiswa PTN di SBY ” di Twitter.

Mufis mengaku dirinya “tidak mengira” “bisa tepat pelecehan seksual” seorang mahasiswa asing yang meminta bantuan untuk penelitian tugas akhir tentang “bungkus-membungkus”.

Mufis meminta dirinya adalah korban “fetish” (bentuk dorongan seksual dalam tingkat melampaui kewajaran terhadap obyek tertentu) mahasiswa berinisial G tersebut.

Hingga Jumat (31/07) pukul 12. 00 WIB, utas yang disusun Mufis telah dicuitkan ulang sebanyak 114. 700 kali.

PERINGATAN: Foto-foto dalam bawah dapat mengganggu kenyamanan Anda

Apa penuturan Mufis?

Pada Rabu (29/07), Mufis menyusun sebuah utas melalui akun @m_fikris. Dalam utas tersebut, Mufis menceritakan pengalamannya diminta seorang mahasiswa berinisial G untuk menyimpan diri seperti dikafani lalu difoto dan divideokan. Foto-foto dan video itu kemudian dikirim kepada G.

Cerita Mufis berasal dari pesan langsung G ke akun Instagram-nya.

G mengaku sebagai mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya tentara 2015. G meminta nomor WhatsApp Mufis untuk berkomunikasi lebih sendat tentang risetnya.

Saat percakapan beralih ke WA, G menjelaskan maksudnya melangsungkan riset tentang bungkus-membungkus. Mufis menanggung keinginan G untuk membantu risetnya.

Dalam tangkapan layar percakapan keduanya, terang G mengaku melakukan riset bungkus-membungkus untuk tulisannya yang bergenre psikologi-thriller.

Mufis sempat merasa takut, namun G meyakinkannya bahwa tindakan itu bukanlah bentuk penyiksaan.

G juga berharap kepada korban hingga akan melamar ke kakinya. Mufis mengaku sayang kepada G yang sudah semester 10.

Mufis menyebut dirinya ke rumah seorang teman dan menodong dia untuk membungkus dirinya memakai kain. Adapun G berada pada lokasi lain.

G lantas meminta kedudukan Mufis yang sedang dibungkus untuk direkam dengan video dan foto. Oleh teman Mufis, hasil video dan foto-foto tersebut dikirimkan pada G.

Hentikan Twitter pesan, 2

Lompati Twitter perintah, 2

Setelah tiga jam dibungkus, Mufis mengaku merasa marah kepada G dan temannya yang membantu. Namun, G justru meminta Mufis juga membungkus temannya.

Karena paksaan yang dialami, Mufis marah kepada G. Tempat kemudian memutuskan untuk membagi pengalamannya ke Twitter.

Apa yang dialami & diceritakan Mufis ternyata mendapat respons dari sejumlah akun lainnya yang mengklaim mengalami hal sama.

“Untung saya sadar sedari dini, aku bagi pertahanan harus ada perjanjian tercatat, dia malah marah-marah, ” sebut pemilik akun @msadiiib.

Pemilik akun @kevinprtytm makin mengaku pernah menjadi calon target G pada 2013 sewaktu baru masuk SMA.

Penjaga selidiki kasus terduga pelaku pelecehan seksual

Saat ini Kepolisian Daerah Jawa Timur sedang melakukan penelusuran dan penyelidikan kasus tersebut.

Polda Jatim, menurut Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko, menugaskan Subdit Siber Ditreskrimsus guna meneropong akun mahasiswa berinisial G yang “telah membuat keresahan para netizen”.

“Subdit Siber telah melakukan penyelidikan kepada akun milik inisial “G” dengan telah melakukan pengunggahan konten-konten, menodong dan menyuruh serta melakukan kira-kira perilaku pelecehan, berdasarkan konten yang disampaikan para netizen, ” sirih Kombes Trunoyudo dalam pernyataan pada BBC News Indonesia, Kamis (31/7).

Trunoyudo menambahkan, mematok saat ini belum ada target yang melapor. Meski demikian, tambahnya, polisi tetap melakukan penyelidikan.

“Sejauh ini juga Polda Jatim dan jajaran belum menerima adanya pengaduan dan laporannya dari para target, ” kata Trunoyudo.

Dia berniat ada korban yang bersedia mengetengahkan sebab keterangan dari korban mau bisa cepat membantu penyelidikan kejadian yang sedang viral tersebut.

G diduga pernah melakukan tindakan serupa, akan tetapi tidak dilaporkan

Universitas Airlangga (Unair) Surabaya akan mengambil tindakan tegas kepada mahasiswanya yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa lain.

Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair, Suko Widodo di Surabaya, Kamis (30/07), membenarkan bahwa G merupakan mahasiswa Unair angkatan 2015.

“Fakultas Ilmu Budaya Unair sudah menggelar sidang komite etik terhadap yang bersangkutan. Pastinya kami mau mengambil tindakan tegas karena telah menyalahi etika mahasiswa, ” ujarnya sebagaimana dikutip kantor berita Antara.

Suko menjelaskan pihaknya melalui FIB Unair juga memeriksa menghubungi G dan keluarganya.

Tetapi, kata dia, sampai saat itu G yang merupakan warga luar kota Surabaya belum bisa dihubungi, sehingga pihak kampus akan menyerahkan sepenuhnya pada pihak berwenang.

“Dulu pernah terjadi saat G oleh karena itu panitia mahasiswa baru, tapi tidak dilaporkan ke dekanat dan sekarang sudah viral di sosial jalan dan ada yang melapor, makanya kami adakan sidang kode etos, ” tuturnya.

Dia kembali menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan kasar dan tidak akan melindungi yang bersangkutan.

“Kami secara tegas tidak akan melindungi kesalahan dan mau terus melakukan investigasi. Tentunya bakal memberikan sanksi paling tegas, karena hal itu merupakan tindakan mengenai disiplin moral mahasiswa, ” ucapnya.

Menggarisbawahi pentingnya RUU PKS

Psikolog klinis kala, Nirmala Ika menyarankan orang-orang tidak memberikan label pada seseorang minus adanya pemeriksaan klinis dari spesialis yang kompeten.

“Jangan memberikan pelabelan ketika kita tidak benar-benar memahami apa yang terjadi, perlu penjagaan oleh orang-orang yang kompeten dengan persoalan tersebut sehingga dapat diberikan treatment yang tepat untuk karakter tersebut, ” ujar Nirmala kepada kantor berita Kurun , Jumat (31/07).

Nirmala menekankan, kasus ini bisa membantu masyarakat melihat kekerasan seksual bentuknya tidak pemerkosaan saja, melainkan ada selalu bentuk-bentuk lainnya seperti eksploitasi seksi, pemaksaan perkawinan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kehamilan dan pemaksaan kontrasepsi.

Cuma saja, menurut dia, jenis kekerasan seksual belum dibahas di undang-undang negara.

“Kekerasan seksual bentuknya bukan pemerkosaan saja, ada bentuk-bentuk lain dengan belum dibahas di UU negeri kita yang sudah ada, itu sebabnya RUU PKS penting seluruhnya untuk dikaji dan disahkan, ” demikian kata Nirmala.

Pembahasan Rencana Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) ditarik dari Prolegnas Prioritas 2020.