Kematian pasien kronis di tengah pandemi Covid-19: Cerita keluarga yang ditinggalkan, anak ditolak empat rumah kecil dan akhirnya tak tertolong
News

Kematian pasien kronis di tengah pandemi Covid-19: Cerita keluarga yang ditinggalkan, anak ditolak empat rumah kecil dan akhirnya tak tertolong

Sejumlah pihak melaporkan kematian anggota keluarga mereka yang menderita penyakit biut, namun tidak tertolong karena sibuknya rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir untuk menangani pasien Covid-19.

Tidak ada masukan resmi di Indonesia terkait itu yang meninggal sebagai akibat tidak langsung dari wabah virus corona.

Namun, di Ambon, orang tua seorang anak, mengarang putra mereka yang mengalami keanehan darah ditolak sejumlah rumah melempem dan akhirnya tidak tertolong.

Rafa, anak pria berusia tiga tahun sebelumnya didiagnosis mengalami kelainan darah.

Sementara seorang pasien gagal buah di Tangerang meninggal karena terlambat cuci darah, kondisi yang pula merupakan dampak dari pandemi virus corona.

Berdasarkan studi BBC, jumlah kematian tak langsung di tengah pandemi Covid-19 menyentuh 130. 000 orang, di asing 440. 000 yang tercatat wafat akibat virus corona.

Tidak ada data resmi nasional untuk Indonesia, namun jumlah maut di Jakarta lebih tinggi 55% dibandingkan rata-rata, pada periode satu Maret sampai 31 Mei.

Jumlah orang yang meninggal mencapai 4. 700 orang, lebih banyak dari periode dengan sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Angka kematian resmi akibat Covid-19 di Jakarta berjumlah 517 dan semua kematian tak langsung lain berjumlah 4. 214, berdasarkan penelitian BBC.

Inilah cerita duka dua keluarga dengan anak dan suami yang merasai sakit kronis namun tidak terselamatkan karena terkena imbas wabah.

Ditolak empat sendi sakit, penanganan pasien non-Covid yang kacau balau

Rabu 20 Mei tengah malam, Ahmad Basoni dan istrinya, berputar ke empat rumah sakit dalam kota Ambon, mencari pengobatan buat anak mereka, Rafa.

Badan Rafa panas, sekapur Basoni, sang ayah memulai ceritanya.

Rafa dirawat selama dua pekan di RSUD Haulussy Januari lalu. Saat itu, tabib belum menyimpulkan penyakit yang diderita Rafa.

Basoni mengatakan diagnosis yang muncul masa itu adalah leukemia dan anemia aplastik.

  • Jumlah kematian di Jakarta 55% bertambah tinggi pada periode Maret sampai Mei
  • Kelam pasien gagal ginjal di sedang wabah virus corona, ‘cek virus dulu, cuci darah kemudian’

“Sekitar jam 12 malam saya ke RS Al Fatah. Di sana suhu awak Rafa dicek. Lalu mereka sejumlah ada prosedur rapid test , tapi alat itu rusak, ” ujar Basoni.

Rapid test atau pemeriksaan cepat ialah cara mendeteksi dua antibodi dalam tubuh seseorang yang terpapar virus corona.

Namun metode ini bukan untuk mengisbatkan diagnosis infeksi Covid-19.

Melalui surat edaran tanggal 24 April 2020, Perhimpunan Rumah Rendah Seluruh Indonesia (PERSI) mengimbau agar pemeriksaan cepat tidak menjadi syarat pemberian layanan terhadap pasien.

‘Itu menyesatkan, memaksa, serta melanggar hak-hak pasien, ” pernyataan PERSI dalam surat yang diteken ketua umum mereka, Kuntjoro Unggul Purjanto, itu.

Lantaran RS Al Fatah, Basoni lari Rafa ke Rumah Sakit Bhakti Rahayu, yang disebutnya tak menyambut pasien baru selama proses sterilisasi virus corona.

Basoni kemudian beranjak ke RST dr. Latumeten.

“Di sana kondisi anak saya sempat ditanyakan. Mereka bilang ada jalan rapid test, tapi itu istimewa untuk ibu hamil. Lagipula, cakap mereka, sedang tidak ada tabib anak, ” ujarnya.

“Lalu saya coba ke RS GPM, ternyata juga sedang disterilisasi, ” kata Basoni.

Dini hari itu, Basoni mengatakan juga pergi ke RSUD Haulussy, rumah sakit pertama yang menyelenggarakan dan menyatakan anaknya mengidap kelainan darah.

Namun rumah sakit tersebut tengah ditutup untuk sementara waktu karena puluhan tenaga medisnya terpapar Covid-19, masa itu.

Tidak ada pilihan lain, akhirnya Basoni dan istrinya membawa pulang Rafa.

Sore hari, Kamis 21 Mei sekitar pukul 16. 00 WIT kondisi Rafa dengan semakin buruk.

“Kami menetapkan pergi ke Rumah Sakit Bhayangkara. Di jalan, ibu mertua saya bilang bahwa Rafa sudah wafat. Tapi untuk menenteramkan istri aku, kami tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, ” kenangnya.

“Di sana awalnya selalu ditolak. Saya mohon agar bujang saya dirawat dulu, sembari hamba coba mencari rumah sakit asing di luar Ambon. ”

“Tapi saat Rafa diperiksa dokter, dia sudah meninggal, ” kata Basoni.

Besar Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Meykel Ponto, yang kami konfirmasi membantah Rafa meninggal karena ditolak vila sakit.

“Anak itu memang pernah dirawat di lengah satu rumah sakit, lalu dipulangkan karena kondisinya membaik, ” sebutan Meykel via telepon.

“Rumah sakit yang tempat tuju memang penuh. Pada perjalanan ke rumah sakit lainnya, tempat meninggal, ” ucapnya.

Kecewa, rumah sakit tak berbuat apa-apa

Penjelasan itu disangkal Basoni yang memperhitungkan anaknya menjadi korban prosedur pengerjaan pasien non-Covid yang “kacau balau”.

“Saya kecewa sekadar rumah sakit tidak bisa mengerjakan apa-apa. Harusnya mau pasien Covid atau tidak, tangani saja, tidak usah pilih-pilih. ”

“Saya protes tidak ada penanganan. Kalau ditangani, mungkin Rafa sedang ada dan berkumpul dengan keluarga kami, ” tegas Basoni.

Bagaimanapun, Basoni tak berpikir menuntut rumah sakit maupun negeri atas kematian Rafa.

Laki-laki yang berprofesi jadi mekanik mobil panggilan ini mengutarakan hanya ingin memendam rasa kehilangan itu.

“Saya penentangan tapi tidak menuntut. Saya penolakan karena tidak ada penanganan untuk anak saya, ” ujarnya.

Kini Basoni masih terus mengenang kepergian anak ketiganya itu.

“Dia anak yang kuat. Sampai sebelum wafat, dia sempat berdiri walau hamba tahu badannya sakit. Gusinya berdarah, tapi dia kuat. ”

“Di hari terakhirnya, saya tidak bekerja, saya yang mengurus dan menjaga dia. Itulah terakhir kali saya bersamanya, ” kata Basoni.

‘Kalau suami saya tidak telat cuci darah, pasti masih hidup’

Cerita duka di tengah pandemi, juga dialami Nurasiah, yang suaminya Suhantono mengalami gagal ginjal.

Awal April lalu, Suhantono, meninggal karena terlambat mendapatkan layanan cuci darah.

Berawal dari jadwal Suhantono untuk cuci darah. Sudah sekian lama, dia harus cuci darah sepekan besar kali. Namun saat Suhantono diperiksa di rumah sakit yang lazim ia datangi untuk cuci darah, dia ditolak.

Saat dicek suhu tubuhnya mencapai 37, 7 derajat Celsius. Suhantono lalu dirujuk ke sebuah sendi sakit di Jakarta.

Karena memang sudah jadwalnya cuci darah, Suhantono pun dibonceng terangkat motor oleh istrinya Nurasiah dari kawasan Serpong ke Jakarta, cerita Nurasiah, warga Serpong, Tangerang, Banten.

Bukannya cepat di HD (hemodialisa/cuci darah), prawacana Nurasiah, suaminya malah diminta melakukan pengecekan virus corona dan diisolasi.

Saat isolasi itulah Suhantono meninggal dunia.

“Kalau tidak telat HD, penanganannya baik, insya Allah mampu panjang [umurnya]. Pasien cuci darah rentan. Telat saja, bisa sudah ke mana-mana, ” cakap Nurasiah.

Makin, tambahnya, suaminya akhirnya diketahui negatif mengidap virus corona.

Suhantono meninggal karena infeksi paru-paru akibat cairan di dalam tubuh yang tidak dikeluarkan jadi menyebar dan menginfeksi paru-paru.

“Terakhir jumpa era masuk IGD saja dan lihat dari kaca. Setelah itu datang terakhir [meninggal], saya tak bisa lihat dan temui suami. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, ” kata Nurasiah.

Nurasiah mengungkapkan hingga kini sedang tersimpan terus rasa kekesalan serta penyesalan.

“Saya kadang berpikir. Rumah sakit membentuk mengerti kalau pasien HD tidak boleh telat. Tapi kenapa untuk peraturan seperti ini, menunggu hasil delapan hari. Itu bunuh pelan-pelan namanya.

“Saya selalu yang ibarat tidak sekolah saja, mengerti karena risikonya racun menjalar kemana-mana tapi pas kejadian corona mereka melarang suami saya basuh darah, ” kata Nurasiah.

Yang membuat Nurasiah bingung dan aneh, saat suami masih hidup, berulang kali dia menanyakan hasil tes virus corona namun hasilnya tidak juga keluar.

Namun era suaminya sudah meninggal, hasilnya kendati keluar.

“Aduh bagaimana ya Pak. Sampai sekarang itu kadang ada penyesalan coba jangan saya bawa ke RS itu, ada penyesalan Pak, ” kata ibu yang kini kudu berjuang sendiri mengurus dua anaknya.

‘Dua ratus ribu pasien cuci darah terancam’

Komunitas Pasien Cuci Darah Nusantara (KPCDI) mencatat hampir 200. 000 pasien gagal di Indonesia terancam meninggal akibat terjadinya perubahan aturan kesehatan di mana pasien patah pucuk ginjal yang demam, sesak nafas, batuk harus mendapatkan hasil rapid test atau PCR terlebih dulu untuk kemudian dapat melakukan cuci pembawaan.

“Cuci pembawaan itu tindakan life sustaining treatment merupakan perawatan yang berkelanjutan, terus masuk untuk dapat hidup. Harus pas waktu dan tidak boleh ditunda. Kalau ditunda otomatis akan tampak penyakit baru. Paru-paru, jantung itu kerendam cairan yang menyebabkan komplikasi, ” kata ketua umum KPCDI Tony Samosir.

Padahal, kata Tony Samosir, demam, sesak nafas dan batuk dengan merupakan gejala Covid-19 adalah petunjuk sehari-hari yang dialami oleh penderita cuci darah.

“Dua teman kami yang meninggal itu hasil akhirnya PCR-nya negatif Covid, tapi pasiennya sudah wafat. Terus apa yang mau dikerjakan? Siapa yang dipersalahkan di sini? padahal mereka masih bisa berumur panjang, ” katanya.

Berdasarkan data KPCDI dua pasien yang meninggal akibat telat basuh darah adalah warga Tangerang, Banten.

Namun terdapat banyak pasien lain yang disebut Tony masih “beruntung” dapat tumbuh walaupun telat cuci darah akibat menunggu hasil tes corona.

“Kami menduga masih banyak jumlah korban pasien urung ginjal yang menjadi korban kelanjutan perubahan protokol kesehatan. Kami dikesampingkan.

“Ini adalah kelanjutan dari ketidaksiapan berbagai pihak, bagus pemerintah, masyarakat, dan fasilitas kesehatan.

“Untuk pemerintah, datang saat ini saya belum membaca adanya sebuah protokol kesehatan pada menangani Covid bagi pasien kubra ginjal, ” katanya.

Berdasarkan data KPCDI terdapat seorang pasien cuci darah pada Kalimantan Selatan bernama Panca Ernawati yang berhari-hari lamanya tidak basuh darah.

Karenanya muka dan badannya bengkak sebab cairan.

Kemudian terdapat pasien di Jakarta & juga Bekasi yang tidak memperoleh layanan cuci darah.

“Akan terus bermunculan kasus-kasus seperti ini jika pemerintah terus sepi tanpa mengeluarkan keputusan bagi vila sakit untuk tidak menolak basuh darah. Itu kuncinya, ” sekapur Tony yang merupakan mantan penderita cuci darah.

Pemisahan rumah sakit

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Meykel Ponto, mengatakan selama pandemi panti sakit wajib menganggap orang dengan risiko tinggi sebagai pasien Covid-19.

Metode screening seperti rapid test dan swab test kendati mesti dijalankan.

Lebih dari itu, kata dia, berbagai rumah sakit di Ambon yang menangani Covid-19, kecuali RSUP dr. J. Leimena, juga masih menerima pasien reguler.

“Untuk pasien umum, ada jalur hijau di rumah sakit dengan bisa mereka lalui. Mereka hanya bisa melalui itu, ” ujar Meykel.

Selama pandemi Covid-19, setiap rumah sakit sungguh diwajibkan menunda pelayanan medis elektif atau terencana.

Merujuk imbauan tertulis Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Bambang Wibowo, yang tidak boleh ditunda adalah pelayanan gawat darurat buat penyakit selain Covid-19.

Namun justru di situ situasi persoalannya, kata Sekjen Ikatan Sinse Indonesia (IDI), Adib Khumaidi.

Adip berpendapat, semasa pandemi, pemerintah semestinya menggolongkan vila sakit, antara yang khusus mengatasi Covid-19 dan yang tetap menyelenggarakan layanan reguler.

Minus pemisahan seperti itu, menurut Adib, pasien non-Covid akan cenderung diabaikan.

“Pemisahan ini buat mencegah penularan virus corona, akan tetapi juga agar pasien non-Covid tetap terlayani. IDI tidak ingin komorbitas dan kematian non-Covid tinggi sebab semua rumah sakit terkonsentrasi dalam Covid, ” kata Adib.

“Ini bukan hanya dengan terjadi Ambon tapi pada semua daerah. Harus ada kebijaksanaan pemisahan agar tidak terjadi peristiwa pasien meninggal karena ditolak sesuai ini, ” ucapnya.

Menurut Lusi Peilouw, pegiat hak sipil dari Yayasan Mutiara Maluku, kematian Rafa menunjukkan tidak adanya perspektif perlindungan hak pasien & anak di antara rumah melempem dan pekerja medis.

Upaya apa pun, menurut Mencari, harus dilakukan rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa pasien.

“Mereka seharusnya mengambil langkah lekas untuk mendapatkan alat rapid test itu, entah berkoordinasi dengan rumah rendah lain atau dengan tim konglomerasi tugas lokal sehingga pasien bisa ditangani. ”

Petugas medis jangan sampai gamang dengan semua pasien

“Tapi ternyata tidak ada upaya barang apa pun yang mereka lakukan selain menolak, ” ucapnya.

“Jangan karena pandemi ini, petugas medis jadi alergi, takut pada semua pasien. Orang datang buat berobat selain Covid, tapi itu berpikir ‘jangan-jangan di dalam tubuh orang ini ada virus corona’, ” kata Lusi.

Di sisi lain, menurut Lusi, kematian Rafa menunjukkan kelalaian pemerintah memitigasi potensi krisis kesehatan. Dia mengatakan klinik darurat harus disiapkan untuk mengantisipasi rumah sakit terhambat persoalan Covid.

“Pemerintah harus siapkan rencana B atau C, ketika rumah sakit telah tidak bisa menangani pasien non-Covid, harus disiapkan mekanisme darurat. Membangun ada banyak fasilitas negara yang bisa dijadikan klinik darurat. ”

“Waktu gempa Ambon 2019, pos kesehatan didirikan dalam berbagai titik sehingga layanan medis tetap berjalan. Kenapa sekarang tersebut tidak berjalan? ” kata Melacak.

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering tetap menerus

PETA & INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Nusantara dan dunia

VAKSIN: Seberapa cepat vaksin Covid-19 tersedia?

Keterangan khusus BBC terkait Covid-19

Info menarik Keluaran SGP