Pemungutan paksa jenazah PDP Covid-19: ‘Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya sanksi baik yang kami dapatkan’
News

Pemungutan paksa jenazah PDP Covid-19: ‘Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya sanksi baik yang kami dapatkan’

Upaya pengambilan paksa jenazah pasien dalam perlindungan (PDP) Covid-19 oleh kerabat langsung terjadi di sejumlah daerah, berulang kali dengan mengerahkan massa. Psikolog sosial mengatakan fenomena ini mencerminkan “emosi negatif masyarakat” di tengah ketidakpastian dan pandemi “yang terjadi dengan masif dan terus-menerus”.

Puluhan orang mendatangi Sendi Sakit Umum Daerah (RSUD) Dadi Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (10/06) malam. Kedatangan mereka ialah untuk mengambil jenazah kerabat itu, seorang perempuan berusia 52 tahun yang menjadi pasien Covid-19 dalam rumah sakit tersebut.

Meski sempat terjadi dialog, aksi pengambilan jenazah dapat dihalau oleh tim gabungan TNI-Polri yang mengamankan rumah sakit. Tiga orang diamankan polisi untuk menjalani pemeriksaan terkait insiden tersebut.

Kepala RSUD Dadi Makassar, dr Arman Bausat menjelaskan ini bukan kali pertama insiden pengambilan menekan jenazah pasien Covid-19 terjadi dalam rumah sakit tersebut. Tepat sepekan sebelumnya, satu keluarga berhasil menjemput paksa jenazah pasien Covid-19.

“Dari awal Mei sudah ada upaya-upaya, tapi kami selama ini masih bisa mengedukasi masyarakat. Tapi dengan berjalannya periode provokasi-provokasi dari sekitar semakin menyusun, sehingga terjadilah kejadian itu, ” ujar Arman kepada BBC News Indonesia, Kamis (11/06).

Fenomena pengambilan paksa jenazah pasien Covid-19 juga terjadi pada sejumlah daerah, seperti Surabaya dalam Jawa Timur dan Bekasi, Jawa Barat.

Kepolisian mengatakan aksi pengambilan paksa jenazah PDP ini bisa dijerat azab pidana dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Provokasi membuat keluarga pasien terpancing

Kepala RSUD Dadi Makassar, dr Arman Bausat membaca pasien yang diambil paksa oleh kerabatnya pada Rabu (10/06) suangi tersebut meninggal dengan status positif corona. Namun pihak keluarga berkukuh untuk membawa pulang jenazahnya.

“Karena kami berpegangan di protokol untuk mayat positif corona harus dimakamkan oleh satgas, oleh karena itu keluarga nggak diperkenankan untuk menjemput, ” kata dia.

Lantaran kerabat yang pegari cukup banyak, Arman mengatakan, sempat terjadi keributan. Namun petugas terus melakukan edukasi serta pemahaman kepada kerabat terkait status jenazah yang sebelumnya merupakan pasien positif Covid-19.

“Awalnya sih anak pasien tidak masalah, cuman ada provokasi makanya sempat terpancing, ” katanya.

Namun akhirnya, keluarga batal membawa pulang jenazah dan setelah pemulasaran, jenazah kemudian dimakamkan dengan protokol Covid-19 di pemakaman khusus Covid dalam Makassar.

Kendati begitu, tak semua pasien PDP meninggal dinyatakan positif Covid-19. Tak sedikit dari mereka dinyatakan minus Covid-19, beberapa hari setelah meninggal dunia.

Dinyatakan berstatus PDP, padahal sakit stroke

Andi Arnida Esa Putri Abram menangis histeris ketika upaya keluarganya membawa jenazah almarhumah ibunya dari Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, Sulawesi Selatan, gagal.

Mereka berniat untuk memakamkan jenazah almarhumah di pemakaman keluarga dalam Bulukumba, Sulawesi Selatan. Namun lantaran sang ibu meninggal berstatus PDP, jenazahnya diwajibkan dimakamkan dengan prosedur pemakaman Covid-19.

Gadis ini bahkan menaiki kap mobil ambulans yang akan membawa jenazah sang ibu ke pemakaman istimewa pasien Covid-19 di Macanda, Gowa. Namun upayanya tak menyurutkan anggota Satgas Covid-19 setempat untuk menyelenggarakan tugasnya.

Andi Satu adalah putri sulung Andi Baso Riady Mappasulle, seorang warga Gowa yang baru saja kehilangan istrinya, Nurhayani Abram pada pertengahan Mei silam.

Oleh pihak rumah sakit, perempuan berusia 48 tahun itu dinyatakan jadi pasien dalam pengawasan Covid-19, padahal Andi Baso mengklaim istrinya “tidak punya riwayat penyakit sebelumnya” serta “hanya tiba-tiba mengalami stroke”.

Apalagi, menurut Baso, pihak rumah sakit mengakui bahwa pengantara kematian istrinya bukan karena virus corona, melainkan karena pecah saluran darah di kepala.

“Makanya kami pertahankan jenazah almarhumah. Pada saat itu kami bersitegang dengan petugas Tim Himpunan Tugas Covid-19, namu karena almarhumah sudah disematkan vonis PDP, mereka memaksakan untuk dikebumikan [menggunakan] protokol Covid-19, ” ujarnya.

“Keyakinan kami bahwa beliau tidak terjangkit Covid-19 karena telah dibuktikan dengan hasil swab dengan sudah keluar, yang hasilnya minus, ” tutur Andi, seraya menambahkan hasil tes itu baru muncul sepekan setelah sang istri dimakamkan.

Dia menyayangkan perlakuan Tim Gugus Tugas Covid-19 terhadap keluarganya. Dia menyebut anak sulungnya “diperlakukan secara tidak manusiawi”.

Dalam pernyataan tertulisnya, Andi Arnida Esa Putri Abram mengaku ketika hendak menggapai kotak jenazah ibunya, petugas “menghadang & memegang tangan dan menyekap bersantai agar tidak bergerak”.

“Seluruh badan saya mau patah rasanya diperlakukan seperti tersebut, ” tulisnya.

  • Kisah ‘Perempuan Corona’, para-para relawan yang mengurusi dan memakamkan jenazah Covid-19
  • Tanah air dengan jenazah-jenazah digeletakkan di tepi jalan karena kesulitan pemulasaraan

Atas peristiwa tersebut, keluarga Andi Baso akan mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah setempat agar bisa memindahkan jenazah istrinya ke pemakaman keluarga, sebab menurutnya “sudah tidak relevan lagi” jenazah almarhumah dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19.

“Kami sangat yakin kami sudah dizalimi sebab tim gugus, kami sudah dizalimi oleh pemerintah karena jenazah almarhumah masih ada di pekuburan Macanda yang khusus Covid, sedangkan almarhumah bukan [pasien] Covid-19.

Jika tuntutan itu tak digubris pemerintah, sebutan Andi Baso, dirinya akan mengajukan gugatan hukum ke rumah sakit dan Gugus Tugas Covid-19 setempat, yang dinilainya ceroboh menetapkan status PDP terhadap istrinya.

‘Sanksi sosial yang sangat menyakitkan’

Lebih jauh, Andi Baso mengatakan, bahwa keluarganya memiliki perlakuan tidak adil karena dengan status PDP yang disematkan kepada sang istri, keluarganya “mendapat sanksi sosial yang sangat menyakitkan”.

“Bisa dibayangkan, kala orang dekat Anda meninggal serta tidak ada satupun keluarga dengan datang, karena status PDP itu. ”

“Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya sanksi sosial yang kami dapatkan dan anak-anak awak, ” paparnya.

Oleh sebab itu dari itu, selain pemindahan jenazah istri ke pemakaman keluarga, tempat menghendaki status istrinya direhabilitasi.

“Supaya kami terbebas daripada stigma yang sudah disematkan pada almarhumah, ” tegas Andi.

‘Spontanitas’ dan ‘kepanikan’ awak di Bekasi

Sementara itu, di Bekasi, Jawa Barat, puluhan orang menggambil paksa jenazah Rosidi, pasien berstatus PDP di Rumah Sakit Mekar Sari pada Senin (08/06).

Sambil berdzikir, massa yang merupakan kerabat Rosidi itu memaksa membawa jenazahnya keluar dari rumah sakit. Petugas keamanan dan tenaga medis yang mengenakan alat penjaga diri kalah jumlah, sehingga jenazah Rosidi yang masih berada pada tempat tidur rumah sakit bisa keluar dari kompleks rumah melempem.

Mereka berkukuh pria berusia 50 tahun itu meninggal bukan karena virus corona, kemudian memakamkan jenazah Rosidi di pemakaman keluarga tak jauh lantaran rumahnya di Desa Srimukti, Gemuk Utara, pada hari itu juga.

Kepala Tempat Srimukti, Sandam Rinta, menjelaskan kelakuan yang dilakukan warganya merupakan wujud spontanitas kerabat Rosidi dan awak Desa Srimukti yang “salah paham” dan “panik” akan minimnya bahan dari rumah sakit terkait kadar jenazah Rosidi.

“Pada saat itu kekhawatiran keluarga & warga sehingga terjadi insiden yang saat itu [terjadi] miskomunikasi, kesalahpahaman dan rasa nanar karena tujuannya ke sana buat melayat. secara spontan tanpa berpikir panjang masyarakat dan warga & saudara-saudaranya mengambil jenazah itu secara paksa, ” ujar Sandam, kaya dilaporkan oleh Quin Pasaribu untuk BBC News Indonesia.

“Warga merasa khawatir karena kalau dimakamkam dengan protokol pemakaman Covid-19, pemakamannya tidak menurut aturan serta budaya, secara agama masing-masing, ” imbuhnya.

Real, merujuk dari hasil laboratorium menunjukkan Rosidi negatif Covid-19. Hal tersebut dikonfirmasi oleh juru bicara Tengah Informasi dan Koordinasi Covid-19 Bekasi, Alamsyah, yang menyebut jenazah pasien PDP corona bernama Rosidi yang diambil paksa di RS Tumbuh Sari, negatif corona.

Buntut dari insiden tersebut, keluarga kemudian mengajukan permintaan maaf kepada pihak rumah sakit di dalam Selasa (09/06). Pihak keluarga & rumah sakit sudah berdamai berasaskan insiden pengambilan paksa jenazah tersebut.

Cermin emosi negatif masyarakat di tengah ketidakpastian pandemi

Psikolog sosial dari Universitas YARSI, Sunu Bagaskara, mengatakan isyarat pengambilan paksa jenazah Covid-19 membayangkan emosi negatif masyarakat di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama tiga bulan final, sehingga mereka cenderung mengambil tindakan berisiko.

“Orang kalau dalam situasi atau emosi negatif, terutama sedang marah, tersebut akan melakukan sesuatu hal yang lebih berisiko, sehingga mereka memperhitungkan remeh sebuah risiko, ” perkataan Bagas, seraya menambahkan risiko terpapar Covid-19 bagi mereka yang menjemput paksa jenazah berstatus PDP yang ternyata positif Covid-19.

Lebih jauh, dia membaca alasan mengapa orang-orang mengambil menekan jenazah kerabatnya. Salah satunya sebab mereka “panik dan syok pada keadaan yang terjadi”. Apalagi, belum ada kepastian apakah jenazah tersebut positif atau negatif Covid-19.

“Ini memicu ketidakpastian di masyarakat, di keluarga, dan itu memutuskan mengambil [jenazah] karena mereka meyakini almarhum wafat bukan karena corona, ” sirih dia.

Dalih lain, lanjut Bagas, berkaitan secara “kebiasaan yang berhubungan dengan kebiasaan dan agama”. Apalagi, warga pada berbagai daerah memiliki patokan agama dan budaya dalam memperlakukan karakter yang meninggal.

“Ketika dalam situasi seperti ini, kebiasaan-kebiasaan itu sudah tidak mungkin dikerjakan. Mungkin ada beberapa keluarga dengan tidak nyaman kalau harus melalaikan kebiasaan yang sudah biasa itu lakukan. Apalagi yang meninggal ialah orang terdekat, ” jelas Gagah.

Selain itu, Bagas memandang masih banyak kelompok yang menyangkal bahaya virus corona, sehingga menolak percaya anggota keluarganya meninggal karena virus mematikan tersebut.

Akibat maraknya kasus pengambilan paksa jenazah terpaut Covid-19, Kapolri Jenderal Idham Azis menerbitkan surat telegram kepada jajarannya yang ditandatangani Kabaharkam Polri.

Surat telegram kapolri tersebut berisi lima poin termasuk mendorong pihak rumah sakit untuk melangsungkan tes swab pada pasien yang dirujuk sekaligus segera memastikan kejelasan status Covid-19 pasien kepada puak.

Lewat surat telegram, kapolri juga mendorong sosialisasi murni kepada masyarakat terkait protokol pemakaman jenazah serta menjaga tempat isolasi pasien dan rumah sakit rujukan Covid-19.

Kapolri juga membolehkan pasien dimakamkan secara hukum agama masing-masing jika terbukti minus Covid-19, namun proses pemakamannya lestari harus memperhatikan protokol kesehatan.