PSBB Jakarta: 66 RW zona abang - 'Kalau ditutup sekaligus, kepalang jawabnya siapa nanti untuk afeksi makan? '
News

PSBB Jakarta: 66 RW zona abang – ‘Kalau ditutup sekaligus, kepalang jawabnya siapa nanti untuk afeksi makan? ‘

Pemerintah DKI Jakarta akan melakukan pengendalian ketat terhadap 66 Rukun Warga (RW) berstatus zona merah di pusat masa transisi menuju pelonggaran Pemisahan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun salah seorang ketua rukun warga mengatakan, kasus positif Covid-19 justru bermula dari pasar induk yang tidak akan ditutup.

Pakar epidemiologi menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bukan hanya perlu menanggapi penularan di lingkungan RW, tapi juga tempat-tempat umum, seperti rekan.

Gubernur Anies Baswedan mengatakan pergerakan warga akan diatur dan aktivitas ekonomi di puluhan RW ini akan ditutup.

“Pergerakannya nanti akan diatur oleh para walikota sesuai secara karakteristik daerahnya masing-masing, ” katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (04/06).

BBC News Indonesia mendatangi salah kepala RW di kawasan Jakarta Timur yang berstatus zona merah, bersandarkan keterangan dinas komunikasi dan bahan DKI Jakarta.

Di lapangan, warganya tetap beraktivtas seperti berpunya, termasuk bepergian ke Pasar Induk Kramat Jati untuk belanja ataupun berjualan.

Hal ini menurut Ketua RW 01 di Kampung Tengah, Jakarta Timur, Suparman, sulit dicegah.

“Karena kasihan juga kalau semuanya harus di ini (karantina wilayah), aktivitas dia cari uang nanti. Kalau sekaligus kita tutup sejenis, waduh, tanggung jawabnya siapa nanti untuk kasih makan, ” perkataan Suparman saat ditemui BBC News Indonesia di kediamannya.

Sebelumnya, Gubernur Anies mengutarakan 66 RW yang tersebar di lima wilayah tingkat kota di DKI Jakarta “perlu mendapat perhatian khusus”.

Di daerah Zona Merah itu, demikian Anies memaparkan, pemprov DKI Jakarta serta pemerintah tingkat kota (pemkot) kurun lain akan “melakukan kegiatan pemantauan, pengetesan, hingga bantuan sosial khusus. ”

Di RW 01 di Kampung Tengah, terdapat 3 kasus positif Covid-19. Satu pada antaranya adalah pedagang di Pasar Induk Kramatjati.

Bersandarkan keterangan Suparman, warganya yang terkena positif Covid-19 terdeteksi pascates kesehatan tubuh secara acak di Pasar Pokok Kramat Jati.

“Kebetulan, di kelurahan tengah ini ada delapan orang yang positif dari 100 orang, termasuk di dalamnya ada warga RW 01 dengan terkena, karena memang dia dagangnya di situ, ” tutur Suparman.

“Agak berat juga untuk RW 01. RW 01 ini kan ada 11 RT, yang rawan itu RT 07, RT 08, dan 11, sebab memang dia perbatasannya dengan Rekan Induk. ”

Selain itu, RW dengan penduduk 2000 keluarga ini juga menjadi arah orang-orang dari pasar untuk beribadah.

“Jadi misalnya dia tinggal di pasar pada masa mau salat, baru ke daerah kita gitu kan, ” introduksi Suparman.

Selama kala PSBB, lelaki berusia 64 tahun itu mengaku memantau langsung kegiatan warganya setiap hari dengan keliling berjalan kaki. Menegur mereka dengan tak menggunakan masker, dan mengingatkan untuk sering nmencuci tangan.

“Kalau tak ada penjagaan seperti itu, orang acuh aja, ” kata Suparman.

Sejumlah jalan juga diblokade untuk membatasi mobilitas orang keluar & masuk.

Di masa arus balik, Suparman mencatat terdapat 20 keluarga yang datang dari kampung ke wilayahnya. Ia menempelkan vila mereka dengan keterangan ‘Rumah Pengembara Mudik dalam Pengawasan Karantina Sendiri 14 Hari’ sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19.

“Udah ini nggak keluar-keluar 14 hari. Nih yang ngontrak di tempat saya sendiri. Tolong jangan keluar, karena petunjuk dikarantina dari luar kota, ” jelas Suparman sambil menunjuk salah satu rumah kontrakannya.

Sementara itu, seorang warga RW 01, Sri Astuti, 59 tarikh, menyadari wilayahnya berstatus zona abang. Ia mengaku selalu mengingatkan keluarganya tetap tinggal di rumah.

“Nggak pernah ke mana-mana, jadi kita kalau mau pesan apa-apa ya online aja. ” katanya.

Waspadai penularan secara sporadis

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, menilai Pemprov DKI Jakarta nantinya perlu mengkaji peristiwa penularan Covid-19 secara sporadis.

Artinya, penularan Covid-19 terjadi bukan dalam satu wilayah seperti antar warga dalam satu RW, tapi kasus tersebut didapat dari tempat-tempat umum, seperti pasar.

“Kalau sporadis, itu menujukkan penularannya di tempat-tempat ijmal. Kalau klastering penularannya di lokal, ” kata Tri Yunis kepada BBC News Indonesia, Kamis (04/06).

“Di Jakarta serupa harus dilakukan begitu. Semua pasar-pasar disurvei, kemudian kalau ada, rekan itu ditutup. Jadi jangan dibiarkan dibuka. Karena akan terjadi transmisi terus menerus, begitu kepada pembelinya. ”

Ketika penjagaan Covid-19 menyeluruh dilakukan, tempat-tempat umum tersebut dipastikan kapasitasnya dengan terbuka jarak sosial, termasuk penggunaan kedok dan penyanitasi tangan.

“Kemudian setiap hari harus dibatasi kapasitasnya, pakai masker juga menetapkan diperhatikan harus ada yang jaga. Harus ada yang meriksa, ” kata Tri Yunis.

Dengan umum, Tri Yunis Miko Wahyono menilai kasus penyebaran di DKI Jakarta belum menunjukkan ambang batas aman.

Sebelumnya, opsi transisi PSBB Jakarta salah satunya berlandaskan nilai Reproduksi Efektif di waktu tertentu (Rt) yang menemui penurunan drastis.

Dari data yang dipaparkan Gubernur Anies, Rt di Jakarta beruang di angka 0, 99 di periode 1 – 3 Juni 2020.

Sebagai sketsa nilai indikator penularan virus corona ini jika Rt 4 artinya 1 orang bisa menularkan dalam empat orang.

“Kalau buat saya, kalau masih tersedia kasus baru bagaimana mau sejumlah aman. Amannya di mana? ” kata Tri Yunis.

Menurut Tri Yunis, wabah dalam suatu wilayah bisa dikatakan tenang ketika jumlah kasus penularan segar sudah stabil dalam waktu tenggat dua pekan. “Karena 60 kepala 80 (kasus baru per hari) itu gampang terjadi lonjakan. Hamba takut terjadi lonjakan bisa jadi 120 dengan gampang, ” katanya.

Berdasarkan laman Covid-19 DKI Jakarta, jumlah kasus nyata baru Covid-19 masih dinamis di sepekan terakhir.

Pada 28 Mei, jumlah urusan baru mencapai 124. Lalu mendarat sehari setelahnya menjadi 100 kasus. Tapi pada 30 Mei kasus baru meningkat menjadi 119. Berserakan, turun lagi menjadi 111 kasus pada 31 Mei 2020. Bola lampu 3 Juni 2020, kasus mutakhir Covid-19 di DKI Jakarta berjumlah 62 kasus.

Pemerintah Daerah (Pemprov) DKI Jakarta memperpanjang kehormatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menetapkan bulan Juni sebagai masa transisi, mulai Kamis (04/06).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pihaknya memperpanjang PSBB, karena ada 66 daerah setingkat Rukun Warga (RW) pada Jakarta yang masuk Zona Abang, walaupun secara umum wilayah lainnya masuk Zona Kuning dan Hijau.

“Melihat tersebut semua, maka kami di Rangkai Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DKI Jakarta, memutuskan untuk menetapkan status PSBB di DKI Jakarta diperpanjang dan menetapkan Juni ini jadi masa transisi, ” kata Anies dalam jumpa pers secara daring, Kamis siang.

Pelonggaran di masa transisi

Anies Baswedan mengatakan pada zaman transisi, kegiatan sosial ekonomi dikerjakan secara bertahap. Di fase prima, pemprov DKI Jakarta melakukan pelonggaran terhadap kegiatan yang memiliki kebaikan besar bagi masyarakat.

“Bila berhasil melewati (fase transisi) bulan Juni dengan baik, yakni tak ada kasus yang artinya menunjukkan stabil, maka bisa mengakar fase kedua, yaitu pelonggaran dalam bidang yang lebih luas, ” katanya.

Pada periode ini, semua peraturan tentang hukuman pelanggaran tetap berlaku. “Tidak tersedia kecuali. ”

Disebutkan apabila di masa transisi tersebut terjadi lonjakan kasus Covid-19, oleh karena itu pemprov DKI Jakarta “tidak ragu untuk menghentikan kegiatan sosial ekonomi. ”

Apa saja yang dilonggarkan?

Dalam keterangannya, Anies mengatakan selama masa transisi fase pertama pada bulan Juni akan dibagi menjadi empat bagian.

Pekan pertama adalah tanggal 5-7 Juni, kedua dari 8-14 Juni, ke-3 sejak 15-21 Juni, dan pekan terakhir 22-28 Juni.

“Sebagai masa transisi fase pertama, sejumlah kegiatan bakal diizinkan buat dibuka kembali, tetapi dengan perlengkapan, ” kata Anies. Tahap pertama mulai digelar Jumat (05/06).

Di pekan pertama, kegiatan ibadah yang bersifat rutin mampu dilakukan, dengan tetap mengikuti pedoman protokol kesehatan yang sudah ada. “Misalnya, jumlah peserta harus 50% dan ada jarak aman kepala meter. ”

Pada waktu yang sama, perpustakaan, sarana olah raga di luar ruangan, mobilitas kendaraan pribadi, angkutan umum massal, taksi, serta ojek (online dan pangkalan) bisa dibuka.

Selanjutnya, pada tahap kedua, 8-14 Juni, kegiatan usaha dan tempat kerja bisa dilakukan, secara tetap memberlakukan jarak aman & pembatasan 50% karyawannya untuk menyelap kerja.

“Perkantoran & rumah makan bisa dimulai Senin tanggal 8 Juni dengan daya 50%, ” ungkap Anies.

Di tahap kedua tersebut, selain perkantoran dan rumah dahar, perindustrian, pergudangan, pertokoan (showroom, butik dll) atau retail mandiri (bukan bagian mal) bisa dioperasikan.

Bengkel, servis, fotokopi, serupa dapat mulai beraktivitas sejak 8 Juni. Taman dan pantai pula bisa dibuka pada pekan ke-2 Juni.

Kapan kepala atau pusat perbelanjaan bisa dibuka?

Menurut Anies, tengah pebelanjaan atau mal dan pasar non pangan, baru bisa dimulai pada Senin 15 Juni.

“Adapun taman rekreasi indor dan out door, serta parak binatang baru buka Sabtu serta Minggu 20-21 Juni, ” ungkapnya.

Seperti persyaratan sebelumnya, pengelola tempat-tempat itu diwajibkan menetapkan protokol kesehatan, termasuk jarak tenang dan pembatasan 50%.

S ekolah dan sekolah tinggi belum dibuka

Menurut Anies, pihaknya akan mengevaluasi fase pertama itu pada akhir Juni. “Apabila damai, bisa dimulai fase kedua, ” katanya.

Sebaliknya, “apabila di tengah jalann ada angka kenaikan yang mengkhawatirkan, akan balik ditutup. Jadi penting jaga disiplin. ”

Dalam keterangannya, Anies menegaskan bahwa di fase transisi pertama di bulan Juni ini, pihaknya belum membuka sekolah, perguruan tinggi hingga kursus-kursus. “Itu menunggu fase kedua. ”