China: Polisi Hong Kong tangkap ratusan orang dan tembakkan merica ke pendemo RUU lagu kebangsaan China
News

China: Polisi Hong Kong tangkap ratusan orang dan tembakkan merica ke pendemo RUU lagu kebangsaan China

Polisi di Hong Kong menangkap sekitar 300 orang dan menghapuskan tembakan berupa biji merica ke arah pengunjukrasa, saat para bagian Dewan Legislatif tengah membahas Agenda Undang-Undang yang akan menghukum sapa saja yang menghina lagu kebangsaan China.

Para-para pemrotes menggelar demonstrasi menentang undang-undang tersebut, yang isinya disebutkan bakal mengkriminalkan orang-orang yang menghina gaya kebangsaan China.

Itu juga menggelar unjuk rasa untuk menolak rancangan UU Keamanan Nasional yang kontroversial.

Penjaga mengatakan penangkapan itu dilakukan karena unjuk rasa itu digelar minus izin. Mereka ditangkap di kaum lokasi.

Selain menangkap ratusan orang pendemo, polisi pada Hong Kong juga sempat menjatuhkan tembakan berupa biji merica ke arah para pendemo, Rabu (27/05)

Hong Kong memajukan jumlah polisi yang diturunkan ke jalan menjelang pembahasan kedua RUU lagu kebangsaan China. Jalanan sudah diberi sekat dan petugas recok telah diturunkan untuk mengantisipasi penentangan.

Beberapa hari sebelumnya, China mengajukan draf Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional yang kontroversial & memicu kerusuhan di Hong Kong.

Kritikus mengutarakan UU tersebut adalah upaya langsung Beijing dalam mengikis kebebasan dengan hanya diberikan ke Hong Kong.

Meski serupa itu, pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, telah menyangkal bahwa UU Ketenangan Nasional akan mengurangi hak-hak warga Hong Kong, meski UU itu akan melarang setiap pengkhianatan, hasutan, dan subversi, atau gerakan memerosokkan kekuasaan yang sah.

Sentimen anti-China meningkat

Jika RUU lagak kebangsaan China tersebut disahkan, siapapun yang menyalahgunakan atau menghina langgam kebangsaan tersebut akan didenda sampai 50. 000 dolar Hong Kong dan dipenjara paling lama tiga tahun.

Kalau RUU tersebut disahkan oleh Badan Legislatif pada Rabu (27/05), RUU itu akan dibacakan untuk dengan ketiga kalinya dan diajukan ke anggota dewan untuk dipilih dalam awal Juni.

Pendemo telah diajak turun ke jalan, mengepung gedung Dewan Legislatif guna menghambat kemajuan pembacaan RUU itu di dewan.

Meski demikian, jumlah personel polisi yang besar nampaknya sekitar ini berhasil mencegah protes dengan lebih besar. Masih belum diketahui apakah protes akan berlangsung belakang.

Hong Kong tidak memiliki lagu kebangsaannya sendiri, sehingga dalam acara-acara besar seperti pertandingan sepakbola lagu kebangsaan China yang diputar.

Dalam beberapa tahun terakhir, lagu kebangsaan itu kala dicemooh penonton. Contohnya dalam perlawanan sepakbola kualifikasi Piala Dunia 2022, ribuan orang mencemooh lagu kewarganegaraan nasional China yang dimainkan sebelum musabaqah mulai.

Sentimen anti-China daratan masih tinggi dalam Hong Kong, terutama karena negeri tahun lalu mengajukan rancangan peraturan yang memungkinkan ekstradisi tersangka ke China.

RUU itu memicu kerusuhan yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Akhir pekan lalu, protes besar terjadi lagi di Hong Kong, yang pertama dalam beberapa kamar terakhir. Pendemo mengabaikan aturan terbuka jarak dan turun ke tiang menentang RUU Keamanan Nasional.

Nasib RUU itu rencananya akan ditentukan minggu ini dalam Dewan Legislatif, dan jika disahkan, dapat diterapkan paling cepat simpulan Juni.

Undang-Undang Dasar Hong Kong, yang sudah berlaku di kota itu semenjak Hong Kong diserahkan kembali ke China oleh Inggris pada 1997, memberikan beberapa kebebasan seperti benar untuk protes.

Ada kekhawatiran bahwa undang-undang dengan baru akan mengurangi otonomi Hong Kong, dan berpotensi memungkinkan China menempatkan penegak hukumnya di Hong Kong, bekerja sama dengan aparat di kota itu.

Sebanyak 200 politisi superior dari berbagai negara di dunia telah menerbitkan pernyataan bersama dengan mengritik rencana China tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo pula mengecam rencana ini, yang dipandangnya sebagai “pukulan telak” bagi kebebasan Hong Kong. Inggris, Australia, serta Kanada juga telah menyampaikan “kekhawatiran yang mendalam” atas rencana tersebut.